Kesehatan mental kini menjadi suatu aspek yang diperhatikan oleh banyak orang, mulai dari tenaga kesehatan profesional hingga masyarakat awam seperti kita ini. Sebuah awal yang baik dan akan menjadi lebih baik jika pemahaman dan sikap mindful juga ditingkatkan lebih baik lagi demi mental yang lebih sehat.

Mempelajari diri dan mengevaluasi luka batin dilakukan bukan untuk menjauhkan diri dari tenaga kesehatan profesional. Tidak sama sekali. Para psikolog dan psikiater memiliki kompetensi khusus yang siap membantu masyarakat dan sangat tidak bijak jika kita hanya mengandalkan pemahaman diri sendiri. Artikel ini disusun untuk membantu mengenal diri sendiri dengan lebih baik dan lebih tanggap untuk secara proaktif terus menjaga kesehatan mental masing – masing.

Jika dulu kata depresi dan bunuh diri menjadi dua hal yang sangat tabu untuk dibahas dalam obrolan harian, rasanya masyarakat hari ini sudah lebih siap dan bersedia membahasnya. Ya, kedua hal ini terkadang merupakan dua kutub yang jauh, namun pada suatu waktu bisa terasa sangat dekat. Di Amerika dan global, bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua terbanyak di kelompok usia remaja hingga dewasa. Kondisi ini juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia, di mana kasus bunuh diri mencapai 1.800 kasus per tahunnya.

Para tenaga kesehatan profesional sudah banyak melakukan upaya pencegahan dan pendampingan untuk mencegah peningkatan kasus serupa. Konseling hingga pemberian obat dalam pengawasan khusus juga sudah dilakukan dengan baik. Tanpa mengecilkan peran positif dari pengobatan medis, coba pikirkanlah kalimat berikut ini. Bagaimana jika kita mendengarkan tubuh ini sejak awal, sejak sebelum kita jatuh dalam lembah depresi dan luka batin yang dalam?

Tubuh memiliki kemampuan yang sangat mumpuni. Secara berkesinambungan, tubuh selalu berusaha menjaga kestabilan suhu, senyawa biokimia di dalam saraf, dan keseimbangan cairan. Respon ini disebut homeostasis, yang secara sederhana nampak ketika kita berkeringat, refleks ingin minum atau buang air, dan lainnya. Ketika merasakan sakit, tubuh juga mengirimkan sinyal pada otak. Alih – alih menajamkan rasa, kita cenderung mengabaikan atau mengambil pil pereda rasa sakit.

Jadi bagaimanakah cara untuk menajamkan rasa dan gaung batin?

  1. Dengarkanlah

Kita tidak bisa mendengarkan dengan seksama jika rasa sakit dan luka yang muncul selalu diredam. Sejatinya, rasa sakit menjadi tanda vital kelima yang banyak dipakai di fasilitas kesehatan, selain suhu tubuh, detak jantung, tekanan darah, dan laju pernapasan. Ketika kita berobat ke rumah sakit mungkin pernah menerima pertanyaan, dari skala 0 – 10, berapa nilai rasa sakitmu?

Sekarang kita tersadar bahwa selama ini rasa sakit dalam diri sudah mencoba menyampaikan pesan yang cukup sering terabaikan. Untuk rasa sakit fisik yang terasa lebih nyata dan nampak saja kadang seseorang mengabaikannya, bagaimana dengan sakit dan luka di dalam hati?

Mungkin memang suaranya masih lirih, namun bagaimana jika luka itu sudah cukup lama tapi takut menguaknya karena perih. Luka yang ada tidak dibersihkan dan langsung ditutup perban. Terkesan beres di permukaan, namun tidak menyembuhkan.

  1. Belajarlah

Setelah bisa mendengar, kini mulailah belajar. Secara bertahap, dengan sikap mindful coba bedakan rasa sakit dan rasa lainnya. Bagaimana kita bisa menyadari suatu kondisi dengan tepat dan jitu jika perhatian tidak tertuju sepenuhnya pada masalah yang ada, apalagi di dunia yang sibuk dan penuh dengan hingar bingar di segala sisi?

Percayalah sebising apapun sekitarmu, rasa sakit akan tetap jujur menyuarakan kisahnya dan bisa menjadi pemandu untuk bisa menajamkan pikiran, perasaan, dan hadir utuh. Jika organ tubuh memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan rasa sakit, hati juga punya caranya sendiri. Salah satunya dengan perspektif yang kerap kita kelompokkan menjadi optimisme dan pesimisme.

  1. Berkembanglah

Kita bisa menyadari rasa tenang dan senang dalam tubuh, bahkan di saat badai masalah sedang menerpa. Rasanya seperti memanipulasi pikiran, namun memang benar adanya. Tekad untuk terus berharap dan bertahan memampukan seseorang untuk tetap sadar penuh.

Sadari dan simpan dengan baik setiap rasa yang pernah ada, sesakit apapun kenangannya. Bagaimana mood mu ketika ada di skala sakit ke 10? Kamu pasti masih ingat, namun enggan mengingat dan membawa memori itu kembali. Secara naluriah, kita memang ingin menjauhkan semua kenangan buruk dan duka. Namun, jika kita mau mengingat akan sakit dan luka yang pernah ada kita bisa belajar melalui masalah yang kini ada. Bukankah sudah pernah ada di masa yang buruk dan terbukti kuat melewatinya?

Kamu lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih berani dari yang kamu pikirkan dan mereka katakan.

Terimalah dengan pikiran dan hati yang terbuka untuk setiap rasa sakit dan luka yang sudah selesai, masih tersisa, dan yang baru saja hadir. Kita tidak mau membesar-besarkan luka itu, namun kita juga dengan bijak tidak bermaksud meniadakannya seolah itu hanya khayalan. Sadari kehadirannya dan yakinlah bahwa ada pelajaran yang akan kita terima.

Bukankah masalah dan luka silam menjadi guru untuk harimu yang sekarang? Itu artinya luka dan sakit hari ini akan menjadi bekal untuk esok lusa.

Dari skala 0 hingga 10, seberapa senang dan tenangkah hatimu hari ini?

 “That which we resist, persists”- Carl Jung

Referensi: Pain Is Our Healing Messenger—Not the Enemy – Lisa Leshko Evers, MA, BSN, RN (www.psychologytoday.com/us/blog/pathways-out-pain/202104/pain-is-our-healing-messenger-not-the-enemy)