Attention is The New Currency

Bicara tentang keseharian kita dan interaksi dengan lingkungan sekitar, otomatis bicara tentang atensi. Sesuatu yang kita berikan sekaligus dambakan dari orang lain. Atensi adalah salah satu keterampilan manusia yang sangat fundamental. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa kemampuan mengelola atensi ini menjadi modal utama menjadi manusia yang mindful.

Atensi bisa diterjemahkan sebagai suatu perilaku yang simple, iya betul. Tapi mengingat kita sering mengalami kesulitan dalam menerapkan dan menyadarinya, sepertinya ini tidak sepele juga. Salah satu hal yang mempengaruhi atau lebih tepatnya mendistraksi pikiran, perasaan, dan kemampuan atensi adalah perkembangan gadget dan teknologi yang sangat pesat serta tuntutan akan hal yang serba instan.

Berarti kita enggak jago multi-tasking?

Enggak sama sekali. Kalau menurutmu kerja selama WFH sambil masak dan cuci piring adalah multi-tasking, coba dirunut lagi. Kenyataannya kita hanya melakukan satu aktivitas dalam satu waktu kan? Cuma karena pergantian dari satu gerakan ke gerakan lain cepat dan dinamis, jadinya terkesan simultan. Alih – alih ingin produktif dan mendapat apresiasi dari teman, bisa jadi pekerjaan kita justru menjadi tidak maksimal. Perlahan mulai terasa kan bahwa otak dan kapasitas tubuh kita terbatas, jadi yuk mulai pilih apa dan siapa yang menjadi prioritas atensi kita, termasuk bagaimana mendapat atensi yang dibutuhkan di dunia maya dan dunia nyata.

Bagaimana caranya biar kita enggak terperangkap dalam medsos dan segala algoritmanya?

Hehe sepertinya ini tantangan yang semua mengalaminya. Di satu sisi, medsos adalah salah satu sarana refreshing, apalagi ketika enggak bisa ke mana – mana gini. Tapi di sisi lain, medsos juga kerap menimbulkan masalah, mulai dari iri hati, salah paham, boros belanja, sampai perang netizen.

Jawabannya sederhana, lakukanlah selective following. Batasi areaeksplorasimu hanya dengan konten yang relevan. Masih bingung mulai dari mana? Tenang, kita bisa juga mulai dari menghilangkan akun atau topik yang tidak kamu butuhkan atau tidak relevan lagi buat keseharianmu. Jadi konsepnya bukan mencari yang tepat, namun menghilangkan yang tidak tepat. Selamat mencoba!

Gimana caranya membuat prioritas yang tepat akan atensi yang kita miliki di kehidupan sehari – hari?

Berhubung atensi sangat berkaitan dengan pikiran dan perasaan, maka skill ini bisa ditingkatkan dengan berlatih mindfulness. Kita perlu selalu diingatkan bahwa kita hanya bisa memberikan perhatian, baik itu pemikiran atau perasaan untuk satu hal dalam satu waktu. Latihlah agar bisa menyadari, memahami, dan mengelola pikiran dan perasaan yang muncul. Sehingga apapun reaksi yang kita sampaikan adalah respon yang sesuai dan wajar.

Kita bisa latihan olah rasa dan minda (pikiran) dengan latihan pernapasan ala meditasi. Gunakan napas sebagai pusat perhatian. Wajar sekali jika di awal terasa sulit untuk fokus. Sebab, default mode untuk pikiran kita memang berisik, sibuk, ramai banget. Namun napas bisa menjadi anchor untuk kembali fokus akan saat ini di sini. Sampai akhirnya ketika pikiran ngelantur lagi, diri kita bisa sadar bahwa pikiranku sedang tidak di sini, lalu dengan sadar bisa ditarik kembali untuk utuh di sini. Lama – kelamaan, kita bisa mengenali pola pikiran, emosi, dan perasaan pribadi.

Kita juga bisa memprediksi kapan akan marah, misalnya. Sehingga sebelum luapan kemarahan tumpah, bisa berhenti sejenak untuk menganalisa, mungkin tadi ekspektasiku ketinggian ya? Memang dia salah, tapi aku mau menegurnya dengan nada pelan sekalipun tegas.

Kalau caper gitu, siapa yang diuntungkan?

Mereka yang mencari atensi kita, bukan diri kita. Sekalipun terkesan sebagai pribadi yang penting karena banyaknya orang yang mencari dan berusaha mendapatkan perhatian kita, entah di dunia nyata atau dunia maya. Ingat, kemampuan tubuh dan otak ada batasnya. Enggak mungkin semua bisa diladeni. Bahkan kalau tidak bisa mengelola atensi kita dengan baik, keseharian juga akan terdistraksi. Standar kebahagiaan dan kepuasan hidup juga jadi kacau. Sejak kapan kita menilai kebahagiaan hidup dari banyaknya jumlah like dalam satu unggahan foto liburan? Hati – hati ya, jangan sampai terbawa asumsi akan hal – hal yang hanya nampak dan ada di dalam layar gadget itu.

Kita sendiri juga butuh atensi, gimana ya cara mendapat atensi dari orang yang kita sayangi?

Tahukah kamu, semakin kita menyukai dan terikat dengan sesuatu, semakin besar juga harapan kita terhadapnya. Di sisi lain, semakin besar juga potensi kita merasa jengkel atau sakit hati ketika kenyataannya berbeda. Ketika kita mulai berharap, kita juga harus siap kecewa. Pada dasarnya harapan sendiri itu sesuatu yang rapuh, apalagi ketika ditumpukan pada orang lain.

Pasangan, saudara, atau teman adalah manusia biasa. Mereka tidak akan bisa selalu memberikan yang kita mau, begitu sebaliknya. Kita tidak bisa mengontrol mereka, namun kita bisa mengarahkan ekspektasi diri sendiri. Ingatlah, hidup kita dinamis, hanya sebentar saja merasa sedih. Selanjutnya sudah akan ada kebahagiaan yang mampir. Selanjutnya selalu bergantian. Rasa sakit pasti ada, tapi merasa menderita itu pilihan. Sampaikan harapanmu dengan apa adanya, wajar kok kita ingin diperhatikan. Namun ingat juga untuk mengontrol ekspektasi sewajarnya.

Kalau attention is the new currency, sejauh mana sih ukuran yang wajar dan sesuai?

Semua kembali ke diri kita masing – masing. Enggak ada resep pokoknya. Tubuh kita selalu mengirimkan sinyal atau kode, perhatikan dan sadari. Ingin mengejar popularitas sebagai salah satu milestone pencapaian? Silakan saja, sambil perhatikan kata tubuhmu. Perut keroncongan tentu pertanda kalau kamu butuh makan, berhenti dulu nge-vlognya. Mengejar karir tentu juga hak semua orang. Tapi kalau sampai ambruk karena gejala tipes, rasanya pengejaran kita sudah berlebihan ya.

Kita hanya memiliki satu tubuh dan satu jiwa, maka sayangi dan rawatlah dengan sepenuhnya. Di tengah dunia yang tak terbatas ini, ada baiknya jika kita tetap memiliki batasan. Orang lain menganggapnya aneh, ya biarkan saja. Tidak perlu dipermasalahkan. Kalau kamu ingin menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi, karier dengan refreshing, atau kolega profesional dengan keluarga, maka buatlah batasan ala kamu.

Misalnya di rumah, sekalipun kita bekerja di rumah namun tidak semua ruangan adalah kantor kedua. Pilihlah satu ruang atau pojokan yang menjadi tempat me time, sebuah tempat di mana kamu enggak buka laptop dan enggak bales chat seputar kerjaan. Atau bisa juga dengan membuat batasan waktu. Sekalipun untuk refreshing, namun scrolling medsos juga perlu dibatasi. Kamu bisa membuat aturan tidak tertulis, misalnya setelah jam 8 malam, maka tidak ada lagi kesibukan di medsos dan online shop. Berikan atensimu untuk hal lain dan orang di sekitarmu.

Artikel ini ditulis berdasarkan Sesi The Science of Mindfulness yang diadakan Santosha bersama Cleoputri Yusainy, M.Psi., Ph.D., Psikolog, Wahyu WIcaksono, Ph.D, dan Adjie Santosoputro pada Selasa, 22 Juni 2021