Sudah menjadi insting manusia untuk menginginkan sesuatu yang lebih, entah menyaingi pencapaian orang lain atau melampaui pencapaian dirinya selama ini. Lebih kaya, lebih jago, lebih terkenal, dan masih banyak lagi. Pokoknya enggak ada kata puas alias serakah.

Kata serakah terdengar cukup kasar di telinga. Serakah identik dengan orang yang ambisius, egois, bahkan enggak segan untuk menghalalkan banyak cara demi memuaskan nafsunya. Tapi benarkah keserakahan selalu seburuk itu?

Tergantung.

Serakah memang salah satu sifat alamiah manusia. Beberapa ahli mengaitkannya dengan teori evolusi. Sifat serakah menjadi salah satu hal yang diprogram oleh gen sebagai salah satu peninggalan evolusi.  Ketika manusia tidak memiliki hasrat untuk mengumpulkan cadangan makanan, bertahan hidup, dan bereproduksi, maka dengan sendirinya mereka akan kalah dan punah.

Relevan dong untuk kondisi sekarang!

Memang sampai kapanpun, rasanya yang kuat yang akan menang, minimal bertahan. Tapi apakah perlu seekstrem itu? Ini bukan berarti melarang kita untuk memiliki motivasi atau ambisi. Ini hanya mengingatkan bahwa setiap harapan dan nafsu itu ada batasnya dan kita memiliki kesempatan untuk memilih. Sebagai orang dewasa, perlu untuk bisa berkata cukup pada diri sendiri.

Kenapa harus merasa cukup kalau bisa lebih?

Karena saat bisa mengartikan kecukupan, kita sedang memberikan kesempatan bagi diri ini untuk berkembang dan menerima kebaikan lain dari semesta. Kamu pernah lihat hierarki Maslow? Konsep ini adalah sebuah segitiga yang memiliki 5 lapisan, masing – masing menggambarkan kebutuhan manusia. Pada lapis terbawah adalah kebutuhan fisik, seperti sandang, pangan, papan, termasuk kesehatan. Kemudian ada lapisan keamanan, seperti jaminan akan rasa aman dan kestabilan hidup. Contohnya adalah lingkungan sekitar yang aman. Pada lapisan ketiga adalah tentang kondisi sosial, yaitu kebutuhan untuk dicintai dan diterima oleh orang lain. Tingkatan keempat adalah tentang ego diri sendiri, seperti kebutuhan akan pengakuan dari lingkungan, kapabilitas, skill, dan performa kerja kita misalnya. Terakhir di pucuk segitiga, terdapat kebutuhan akan aktualisasi diri, yaitu dorongan untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan berbagai dorongan lain.

Coba bayangkan bagaimana jika kita tidak bisa atau tidak mau merasa cukup?

Kita akan terjebak dalam suatu lapisan kebutuhan, misalnya ego. Rasanya enggak pernah puas sama pencapaian sendiri. Ingin lebih cepat naik jabatan, ingin gaji yang lebih tinggi, ingin dikenal lebih banyak orang, ingin lebih ini itu yang enggak ada habisnya. Ketika pikiran kita terpusat pada diri kita sendiri, kita jadi enggak sempat melihat peluang lain, yaitu aktualisasi diri.

Belakangan lalu tersadar saat melihat teman – teman yang berkembang dengan posisi di divisi baru, mereka yang sempat buka usaha, menemukan passion dan hobi baru, atau baru lulus S2 bahkan S3. Sebenarnya bukan karena kita enggak sepintar atau seberuntung mereka lho. Tapi mungkin karena energi habis untuk memuaskan hasrat dalam hal ego tadi. Ketika kamu memiliki pekerjaan yang stabil, sekalipun gajinya tidak tertinggi di bidangnya, namun merasa cukup, ada sebuah kepastian dan ketenangan yang sudah kamu genggam. Sehingga kamu memiliki cukup energi untuk meraih hal lain dan mengembangkan dirimu.

Ouch, jleb banget! Gimana caranya kita tau bahwa apa yang dimiliki ini sudah cukup?

Ada dua pendekatan yang bisa digunakan. Yang pertama dari diri sendiri. Sebagai orang dewasa, kita memiliki pemikiran dan perasaan. Gunakanlah dengan logis. Ketika kita mengusahakan sesuatu dengan berlebihan, ketika tujuannya juga tidak jelas, bahkan ketika kita sudah mencapainya namun tidak merasa puas, maka ada yang salah. Renungkanlah.

Yang kedua dari segi religiusitas. Semua agama mengajarkan bahwa keserakahan adalah hal yang patut dihindari. Kamu bisa pilih pendekatan mana yang membantumu mengontrol nafsu dan mengajarkanmu untuk merasa cukup.

“Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed.”- Mahatma Gandhi

Referensi: www.psychologytoday.com/us/blog/hide-and-seek/201410/is-greed-good