Beberapa waktu yang lalu media ramai memberitakan kasus pembunuhan yang bermula dari hubungan sepasang kekasih yang tidak berakhir dengan baik, seorang perempuan ditinggal menikah oleh kekasihnya. Karena dendam lalu mengirimkan sebungkus sate yang sudah diracuni. Meskipun target utama selamat, sayangnya seorang anak yang tidak bersalah menjadi korban karena memakan sate tersebut.

Perbuatan yang dilakukan oleh pelaku tentunya dapat dipahami, tapi bukan berarti dapat dibenarkan. 

Beberapa dari kita pasti pernah mengalami hal yang dirasakan oleh pelaku, sebuah pengkhianatan. Ketika sudah memercayai seseorang, baik itu teman, pasangan atau bahkan orang tua dan mereka melakukan pengkhianatan. Ada rasa kecewa yang mendalam. Berakar dari sana terdapat pilihan apakah mau memelihara dendam dan ingin berbuat sesuatu yang ekstrim. Entah itu melukai seseorang secara fisik atau batin.

Kendati demikian, ada juga orang juga yang dapat memaafkan sebuah pengkhianatan dan melanjutkan hidup dengan tenang.

Mungkin kita bertanya – tanya, bagaimana bisa seseorang mampu memaafkan orang yang telah mengkhianatinya? Bukankah tidak mudah mengikhlaskan luka akibat perlakuan orang lain?

Jawabannya tentu tidaklah mudah, tapi dapat dilakukan.

Sebuah studi kasus meneliti 94 orang dewasa dengan kondisi mindful yang pernah diselingkuhi oleh pasangan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa orang yang memiliki sikap mindfulness cenderung akan lebih memaafkan pasangan yang mencurangi mereka. Dalam ranah ini, memaafkan dilakukan bukan semata-mata untuk pelaku yang merugikan. Melainkan untuk diri sendiri agar pulih dari luka yang mendalam. Bahkan setengah dari 94 orang dewasa yang diteliti, tidak lagi berada dalam hubungan dengan pasangan yang menyelingkuhi mereka.

Dalam penelitian ini, mindfulness dibagi ke dalam lima kemampuan yang berbeda diantaranya adalah:

  1. Kemampuan memerhatikan apa yang dialami, seperti pikiran, perasaan, sensasi dan persepsi.

2. Kemampuan menggambarkan apa yang dialami.

3. Kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan sadar, berpikir sebelum bertindak.

4. Kemampuan untuk tidak menilai atau menghakimi apa yang dialami.

5. Kemampuan non reaktif terhadap apa yang dialami, dapat menahan reaksi yang tiba-tiba seperti mengamuk.

Penting untuk kita menerapkan hal-hal di atas ketika berhadapan dengan sesuatu yang akan melukai hati. Seseorang dengan kemampuan bertindak dalam keadaan sadar, seperti berpikir sebelum bertindak cenderung akan terhindar dari situasi kebencian. Tidak hanya itu, memiliki kemampuan menahan diri untuk bereaksi secara tiba-tiba (seperti mengamuk) dan menghakimi diri sendiri juga tak kalah penting. Dengan demikian, kita akan berada dalam kondisi mindful dan terhindar dari kendali perasaan negatif.

Untuk membuat diri kita berada dalam kondisi mindful, yang perlu ditekankan adalah pentingnya mencintai diri sendiri. Sejatinya, mindfulness adalah salah satu aspek dari memiliki rasa itu. Apakah memiliki rasa kasih sayang untuk diri berarti selalu merasa bahagia dan mengasihani diri?

Mencintai diri sendiri adalah memiliki kesadaran untuk peduli terhadap kejadian yang menimpa. Bagaimana maksudnya?

Sederhananya, ketika sedang berhadapan dengan anak kecil lalu mereka misalnya mengalami sesuatu, entah itu baik atau buruk kita berkata, “Ibu, ayah, sayang kamu. Ceritakan saja apa yang baru kamu alami. Ibu, ayah, penasaran.” Ketika berkata demikian, kita tentunya akan mendengarkan apa yang baru saja dialami oleh anak. Tidak hanya sekadar mengetahui apa yang sedang diceritakan, tapi mendengar dengan kasih sayang dan perhatian. 

Seperti itulah yang dilakukan kepada diri sendiri ketika ingin berada dalam kondisi mindfulness. Ketika sedang merasa marah, takut, kecewa, kita tidak perlu serta merta langsung menolak perasaan negatif itu. Tapi biarkan diri bercerita, bagaimana emosi negatif ini datang. Seberapa menyakitkan luka yang sedang dialami.

Dengan demikian, kita akan cenderung terhindar dari rasa benci terhadap penyebab luka hati dan memiliki ketahanan emosi yang baik. Penelitian yang telah dilakukan mengatakan bahwa orang yang mencintai diri sendiri, cenderung dapat menghindarkannya dari keinginan untuk tidak memaafkan orang yang telah melukainya.

Terdapat beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menerapkan mindfulness ketika berhadapan dengan pengkhianatan.

  • Biarkan diri merasakan segala emosi negatif yang muncul.

Dibandingkan melawan emosi negatif, kita dapat menerima dan membiarkan emosi tersebut hadir. Hal ini dapat dilakukan dengan duduk dan memerhatikan setiap perasaan yang datang. Misalnya kita merasakan sedih dan marah. Pahami bahwa perasaan-perasaan tersebut tidak datang dari peristiwa pengkhianatan atau perselingkuhan itu sendiri. Melainkan datang dari perasaan sakit hati, pikiran dan gangguan fisik yang sedang dialami.

  • Ringankan gejala fisik yang sedang dialami.

Berhadapan dengan kejadian yang membuat hati terluka dapat berpengaruh kepada fisik. Misalnya merasa lemas atau pusing dan tidak bisa tidur. Kita dapat meringankan beban yang sedang dialami, yaitu dengan melakukan kegiatan fisik sederhana. Misalnya seperti bernapas dalam-dalam, menghirup udara sambil berjalan-jalan di pagi hari.

  • Buatlah keputusan untuk memaafkan.

Memaafkan tidak hanya dilakukan untuk seseorang yang melukai hati saja. Tapi untuk diri kita juga, jika memang merasakan bahwa diri kita menjadi salah satu penyebab kejadian yang tidak diinginkan. Tapi tentu saja, ketika memaafkan perlu diketahui bahwa tujuannya adalah untuk menenangkan batin yang terluka.

  • Lihat situasi dari sudut pandang yang berbeda.

Alih-alih melihat pasangan sebagai orang yang menorehkan luka batin, kita dapat melihat mereka dari sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi mereka melakukan apa yang sudah dilakukan bukan karena keinginan, tapi karena luka lama yang belum tuntas dihadapi. Karena nyatanya mereka adalah manusia yang rapuh juga. Dengan ini, kita melatih perasaan kasih sayang kepada pasangan.

“To forgive is to set a prisoner free and discover that the prisoner was you.” – Lewis B. Smedes

Referensi: How Mindfulness Can Help Us Forgive Betrayal (https://www.mindful.org/how-mindfulness-can-help-us-forgive-betrayal/)