Dulu waktu masih duduk di bangku sekolah menengah, zaman Facebook lagi hits banget banyak yang pasang status asmaranya “it’s complicated”. Waktu itu rasanya edgy banget. Giliran sekarang berada dalam hubungan complicated yang sesungguhnya, duh rasanya panas dingin. Mau disudahi tapi kok setengah hati berkata jangan. Mau bertahan di dalamnya, tapi rasanya seperti kehabisan harapan.

Sebelum mencari solusi, lebih baik samakan persepsi dulu ya apa saja yang akan kita bahas dan kategorikan sebagai complicated relationship kali ini.

Ada banyak hal yang membuat hubungan menjadi complicated. Setiap dari kita barangkali punya jawabannya masing – masing. Sekarang yang mau kita bahas adalah hubungan yang timpang, perselingkuhan, dan hubungan tanpa status. Shall we?

Hubungan yang timpang.

Penyebabnya tentu karena adanya ketidaksetaraan. Yang satu merasa lebih banyak memberikan usaha dan energi untuk membina hubungan dari yang lainnya. Ada yang pernah mengalaminya juga? Atau malah sekarang sedang dalam kondisi yang serupa? Kita pasti enggak mau berlama – lama ada dalam status yang seperti ini. Jadi solusinya adalah dibicarakan.

Udah gitu doang?

Diawali dari obrolan, langkah selanjutnya akan dipikirkan berdua ya. Kalian perlu bicara, baik itu yang merasa memberikan usaha lebih besar maupun kamu yang melihat pasanganmu berusaha ini itu. Hubungan ini kan dijalani berdua, jadi setiap dari kalian perlu punya persepsi dan ekspektasi yang sama.

Bisa jadi seseorang memiliki ekspektasi yang lebih tinggi dari yang lain. Bisa juga karena perbedaan gaya dan cara dalam mengungkapkan rasa sayang pada pasangan. Buat kamu, rasa sayang itu dibuktikan dengan romantic dinner. Sehingga kalau dia ngajakin kamu belanja terus masak bareng, itu bukan sayang. Itu namanya ngirit. Padahal bagi dia, cuma orang yang spesial aja yang diajakin masak dan makan bareng di apartemennya. See? Coba pelajari “5 love language” dan kamu juga bisa mengetahui love language-mu di web resminya. Ajak juga pasanganmu untuk mencobanya.

Kalian selanjutnya bisa bicara dari hati ke hati. Mau tipsnya?

  1. Berbicaralah tentang harapanmu dan sampaikan dari sudut pandangmu.

Bukan berarti arogan, tapi kamu perlu menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan perasaanmu. Kan pasanganmu bukan cenayang, mana tahu kalau enggak diobrolin..

Contohnya, “Aku merasa beberapa minggu ini kita jarang ketemu. Padahal aku kangen sama kamu, ada hal – hal yang lebih enak kalau dibahas langsung. Biar bisa ketemuan, gimana ya ngatur waktunya yang pas?” 

Kita enggak mau menuduh bahwa si dia enggak niat ketemu, enggak peduli lagi. Belum tentu. Siapa tahu dia belum mendapatkan feel yang sama tentang urgensi untuk ketemuan? Coba bayangin kalau kamu datang dan langsung bilang, “Kamu kenapa sih belakangan ini enggak mau ketemu sama aku?”

  1. Fokus pada topik yang dibahas dan bersedialah menjadi pendengar

Sekalipun kejadian ini sudah pernah terulang sebelumnya, tapi jangan melebarkan topik. Enggak usah ungkit – ungkit kesalahan untuk mengakumulasi kejengkelanmu. Enggak usah.

Tujuan kita ngobrol itu untuk mencari tahu makna hubungan yang sebenarnya dan mencari solusi bersama. Bukan sedang membuat daftar siapa yang lebih nyebelin. Jadi ketika dia menyampaikan pendapatnya, dengarkan tanpa menyela ya.

Kalau dia diem aja?

Kasih waktu. Dengarkanlah kesunyiannya. Lalu kamu bisa mengatakan kalau kamu beneran pingin tahu apa yang dia pikirkan dan rasakan, dengan nada yang bersahabat ya. jangan digas terus.

  1. Cari momen yang pas

Iya dong.. ini tips yang semua orang udah tahu tapi kadang lupa diterapkan. Jangan terbawa emosi dan merasa harus detik ini juga dibahas. Menunda sesaat itu tidak masalah. Justru menjadi baik jika penundaan ini membuat kalian menemukan mood yang lebih baik serta hati dan pikiran yang lebih siap.

Selingkuh.

Topik alias konflik yang enggak pernah basi untuk dibahas. Poin pertama yang perlu diketahui adalah, selingkuh itu bukan gangguan psikologis. Pada sebagian kasus, memang ada yang memiliki gangguan psikologis sehingga melakukan selingkuh berulang. Tapi itu pengecualiannya. Intinya selingkuh tidak bisa dibenarkan dengan alasan psikologis. Itu mah memang dianya aja…

Selingkuh sendiri enggak selalu tentang hubungan seksual. Dua tipe lainnya adalah perselingkuhan yang melibatkan perasaan, seperti yang sering kita dengar di sekitar maupun yang melibatkan pikiran, alias mengidolakan seseorang dengan berlebihan. Kita perlu membicarakan dengan pasangan masing – masing tentang batasan perselingkuhan ini ya, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di hari mendatang.

Apa yang harus dilakukan ketika diselingkuhi?

  1. Lakukanlah aktivitas yang bisa mengembalikan self-worth

Disadari atau tidak, kita merasa ada yang kurang dalam diri makanya si dia selingkuh. Sekalipun belum tentu benar, tapi kamu perlu melakukan hal yang bisa membuat kepercayaan dirimu kembali.

Misalnya belajar hal baru untuk menambah pengalaman dan skill. Meracik kopi? Membuat kerajinan tangan dari clay? Silakan saja.

  1. Habiskan waktu dengan orang terdekat

Sebaiknya kamu tidak sendirian dalam beberapa saat. Habiskan waktu dengan orang – orang yang kamu percaya. Entah para sahabat yang enggak pernah kehabisan ide dan obrolan, atau keluarga yang selalu menjadi tempatmu pulang. Berada di tengah – tengah inner circle yang memiliki aura positif dapat membuatmu merasa lebih baik dan mencegah overthinking yang suka muncul kalau lagi sendiri.

  1. Bicarakan dengan pasangan tentang makna perselingkuhan

Sebelum menyerang dan menyalahkan pasangan, cobalah untuk berbicara. Sekali lagi dari hati ke hati. Tanyakan pendapat dan perasaannya. Ingat ya, bertanya bukan menginterogasi berlebihan, apalagi menuduh.

Perkara apakah dia berbohong atau masih layakkah hubungan ini dilanjutkan, tentu kamu sendiri yang bisa merasakannya..

  1. Mencari bantuan profesional dan terapi

Kesehatan mentalmu sangat perlu diperhatikan. Temukanlah bantuan sebelum semuanya menjadi parah. Enggak ada hal yang terlalu remeh untuk dibicarakan dengan psikolog. Semua perasaanmu valid dan kamu berhak merasa lebih baik.

Hubungan Tanpa Status.

Kata siapa enggak ada statusnya? Ada kok, cuma enggak jelas hehe. Entah itu friends with benefit (FWB), abang adek, teman tapi mesra, apapun itu.

Tahukah kamu, sebuah survey di Amerika menunjukkan bahwa kebanyakan dari hubungan serupa tidak berlanjut ke jenjang yang lebih serius?

Sebenarnya kalimat di atas bernada netral. Iya dong, karena memang motivasi awalnya untuk seru – seruan aja, atau untuk jangka waktu yang relatif singkat. Tapi kenapa perasaan kita tergelitik ya membacanya, mak deg rasanya. Mungkin kita keburu baper dengan aneka film yang menjanjikan happy ending.

Coba sekarang kita renungkan lagi, apakah memang ini hubungan yang diinginkan?

Kalau memang iya, dan kamu menemukan pasangan dengan frekuensi yang sama, berarti tidak ada masalah. Namun jika salah satu dari kalian memiliki ekspektasi yang berbeda, tentu harus dibicarakan. Pesanku cuma satu, berbicaralah dengan asertif dan realistis. Sekalipun ada kenangan lalu atau harapan yang lain, tapi yang perlu kalian bicarakan adalah tentang hari ini. Usahakan untuk menyingkirkan kenangan dan harapan dulu ya. Hadirlah dengan utuh pada kondisi hari ini saat ini.

Tipsnya?

Sama kok seperti tips sebelumnya, kunci dari komunikasi adalah suara dan mata kita. Oleh sebab itu, berikan kontak mata yang baik dan wajar. Imbangi juga dengan intonasi, artikulasi, dan volume yang jelas. Kita perlu menggunakan pilihan kata yang lugas, jangan dikode-kode terus. Ini kan hubungan, bukan sedang membuat web programming yang memerlukan kode.

Ditulis berdasarkan Sesi Kolaborasi Santosha bersama Inez Kristanti, M.Psi, Psikolog pada Rabu, 28 Juli 2021 bertema “How To Manage a Complicated Relationship?”