Social anxiety. Sebuah keadaan di mana kita secara sadar maupun tidak merasa cemas atas penilaian orang lain terhadap diri. Terdengar sangat serius, tapi sesungguhnya ini sangat dekat dengan keseharian bahkan muncul dari lingkup sosial terdekat. Apa kata orang, apa kata tetangga, dan apa kata om tante kalau…. (silakan isi sendiri dengan pengalaman masing – masing).

Jika kondisi ini belum pernah menghampirimu, bersyukurlah karena ini artinya kamu hidup dalam lingkungan sosial yang sangat menyenangkan. Namun jika termasuk yang menghindari arisan dan kumpul keluarga karena bosan dan jengkel dengan penilaian yang terus diberikan tanpa diminta, kamu tidak sendiri. Awalnya masih bisa ditanggapi dengan senyum, lalu mulai jengkel bahkan bisa sampai kepikiran terus.

Adanya pemikiran bahwa mungkin yang diucapkan mereka itu benar, bahwa kamu tidak cukup sempurna. Bahwa ketika kamu menjadi pusat perhatian, itu artinya ada sesuatu yang salah atau aneh.

Social anxiety dapat menimbulkan reaksi yang beragam pada masing – masing pribadi. Perasaan ini pada dasarnya merupakan rasa cemas yang kompetitif, di mana kita merasa inferior atau tidak cukup baik atau keren. Pada sebagian orang, social anxiety bisa muncul karena ada perasaan bahwa kita memiliki resiko untuk kehilangan status sosial, seperti pengakuan, dukungan, dan eksistensi diri. Hal ini membuat seseorang menjadi lebih fokus lagi pada kompetisi untuk menjadi yang terbaik dan terdorong untuk menjadi individualis.

Sebentar, sebelum kita menyimpulkan bahwa tekanan yang menyesakkan ini disebabkan oleh orang lain; yang dengan santai melontarkan pertanyaan dan komentar tanpa filter. Bisa jadi kecemasan ini ada dan nyata karena kita yang membuatnya. Ya, entah sadar atau tidak, ada standar kesempurnaan yang terpatri dalam pikiran. Standar imajiner ini menjadi patokan tentang layak tidaknya berada di dalam lingkaran sosial. Kecemasan hingga ketakutan yang menghantui pikiran terkadang lebih menyeramkan dibandingkan kenyataan yang ada.

Salah satu faktor yang membuat cemas adalah perfeksionisme berlebihan. Seorang perfeksionis memiliki standar yang sangat tinggi. Ketika mereka tidak mampu mencapai standar tersebut akan mengecam diri sendiri dengan sangat tajam. Mereka langsung merasa gagal, buruk, dan inferior. Orang perfeksionis khawatir akan penilaian dari orang lain. Sehingga sebelum itu terjadi, mereka sudah habis – habisan menilai dirinya sendiri. Terkadang gestur yang langsung berubah menjadi minder atau tidak puas malah membuat lingkungan sekitar menyadari sesuatu dan membuat mereka merasa lebih tersiksa lagi. Ini bukanlah suatu kondisi yang baik untuk kesehatan mental, namun ironisnya masih ada di sekitar.

Buat kamu hai sang perfeksionis, jangan berkecil hati. Terkadang perasaan ini muncul di luar kendali. Di satu sisi, kamu memiliki kesadaran dan kewaspadaan yang baik namun jika digunakan berlebihan, ini tidaklah baik bagi dirimu sendiri. Namun sesungguhnya, kamu memiliki modal yang sangat baik untuk menjadi pribadi yang seimbang, yang memiliki standar namun tetap realistis. Modal ini adalah pikiran dan kesadaranmu tadi.

Ketika cemas akan performamu maupun kata orang tentang dirimu, sadarilah bahwa fokusmu sedang berpusat pada dirimu sendiri. Sadari saja untuk beberapa waktu. Kemudian secara perlahan, kendalikan pikiran dan perasaanmu untuk lebih menyadari apapun yang ada di luar diri. Misalnya, mengarahkan perhatian pada orang lain, kegiatan lain, atau bisa juga cukup dengan memperhatikan apa yang ada di sekitar dengan pikiran dan hati yang sadar penuh. Untuk awalan sepertinya sulit dan membutuhkan waktu berlatih yang panjang. Tidak masalah, gunakan setiap momen dan kesempatan yang ada untuk kamu latihan menyadari emosi dan pikiran.

Tips selanjutnya, jika kamu merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian cobalah untuk menghadapinya. Jika ditunjuk tiba – tiba untuk berpendapat dalam sebuah meeting merupakan hal yang menakutkan, kamu bisa mulai berlatih dengan membiarkan dirimu terbuka dan terpapar oleh keadaan sekitar. Cobalah sesekali mengajukan diri sebagai time keeper atau pencatat diskusi dalam sebuah meeting. Pada kesempatan lain, rasanya menarik juga untuk memberikan pendapat; sebelum ditunjuk oleh orang lain. Bahkan mencoba membuka obrolan atau menerima ajakan ngobrol dari orang lain ketika menunggu bus atau antrian dokter juga dapat menjadi latihan sederhana untuk membiasakan dirimu terbuka dan dilihat orang.

Yang terakhir, dengan pikiran mindful turunkanlah standar sosial yang selama ini tertancap kuat dalam benakmu. Tidak perlu menghapus dan menghilangkan standar itu sepenuhnya, namun kurangi secara perlahan sampai pada batas wajar. Jujurlah pada dirimu sendiri, tidakkah rasanya melelahkan untuk terus menjaga citra diri agar selalu sempurna? Ketika kita menyadari dan mengakui keterbatasan yang ada, secara tidak langsung juga meruntuhkan tembok yang membatasi diri ini dengan orang lain. Tembok yang membuat diri tidak tersentuh sudah hilang dan kini bisa lebih mudah untuk memahami dan terhubung dengan rekan dan sesama di sekitar.

Menurunkan standar bukanlah menghilangkan ambisi, menghapus tata krama atau menjadi berantakan. Tidak sama sekali. Sebab yang diturunkan bukanlah kualitas dirimu, melainkan hanya patokan yang abstrak tentang kapan dan bagaimana seharusnya merasa puas dan bahagia. Bukankah kebahagiaan adalah sesuatu yang membebaskan dan bisa hadir secara tiba – tiba? Jadi jangan halangi pikiranmu dan biarkan dirimu merasa bebas dan diterima apa adanya dengan utuh dan penuh.

“There is nothing perfect,

No one can be perfect,

And perfectionism is something you shouldn’t chase” – Shawn Crahan

Referensi: Why Your Perfectionism May Be Making You Socially Anxious – Marianne E Etherson (www.psychologytoday.com/us/blog/the-costs-perfectionism/202102/why-your-perfectionism-may-be-making-you-socially-anxious