/jeda.

Jeda bisa berarti suatu ruang untuk kita menyadari saat ini. Jeda bukan sengaja mengurangi dan mengosongkan pikiran karena pikiran tidak pernah benar – benar bisa kosong. Jadi jeda ini merupakan kesempatan untuk pikiran dan perasaan kita beristirahat sebentar akan imajinasi terhadap masa depan, maupun penolakan dan kekecewaan dari masa lalu.

Kenapa kita butuh jeda?

Biar tetap waras hehe.

Sadar enggak sih, badan, pikiran, dan perasaan kita suka enggak kompak?

Misalnya, badan ada di saat ini sedang membaca tulisan ini. Tapi pikiranmu ada di masa depan, lagi membayangkan nanti mau beli makan apa. Sedangkan perasaanmu bisa saja berputar di masa lalu, mendadak melow teringat biasanya weekend itu makan di luar sama si dia yang sudah jadi mantan.

Ini hanya contoh sepele. Kenyataannya diri kita tertarik ke masa lalu atau terpelanting ke masa depan untuk hal – hal yang kompleks dan menguras energi. Jika tidak ada kesadaran untuk menjadi sadar penuh, wah..bahaya nih. Kesehatan mental kita mejadi taruhannya.

Maksudnya enggak fokus gitu kan? Masak sih bisa sampai mengganggu kesehatan mental?

Serius, ini enggak nakut – nakutin dan bukan sekadar enggak fokus saja. Tapi resiko gangguan kesehatan mental itu ada, termasuk imbasnya ke kesehatan fisik. Sebagai catatan, gangguan kesehatan mental tidak hanya kondisi yang serius dan membutuhkan pengobatan atau terapi medis, tapi kecemasan, hilangnya semangat, dan over thinking juga termasuk ciri dari adanya gangguan kesehatan mental.

Pikiran yang sangat banyak itu menguasai kepala kita dan terdengar sangat berisik, minta diperhatikan. Ketika memberikan perhatian yang terlalu besar, semakin lama akan semakin terasa bahwa pikiran itu nyata. Hingga timbullah perasaan yang sulit diarahkan. Takut yang menyelinap masuk membuat jantung selalu deg-degan, pesimis, curiga, padahal yang ditakuti belum muncul. Malah mungkin tidak pernah muncul.

Atau momen yang menjengkelkan yang masih terus dibawa, membuat pikiran sulit fokus, sentimen, berujung pada sakit maag yang kambuh.

Kabar baiknya, melatih jeda itu simpel, cuma butuh usaha dan latihan.

Check it out!

Untuk melakukan jeda dalam keseharian, modalnya cuma dua, yaitu napas dan waktu. Dua hal yang selalu kita miliki tapi jarang disadari. Sediakan waktu, jadi kita dengan sadar dan sengaja memang mengambil waktu jeda sejenak. Awalnya bisa terasa janggal, bahkan mungkin kayak buang – buang waktu di tengah banyaknya deadline dan target. Tapi cobalah untuk menyediakan waktu.

Selanjutnya, gunakan napas sebagai jangkar untuk tetap berlabuh di sini kini. Pusatkan perhatianmu pada napas yang sedang kamu hirup dan hembuskan. Ketika pikiranmu melayang ke tempat dan waktu lain saat kamu sedang dalam jeda, jangan dipaksa untuk harus detik itu juga kembali ke sini kini. Enggak apa – apa, disadari saja. Dengan kamu menyadarinya, energimu sebagian terarah pada kesadaranmu akan pikiran yang sedang tidak di sini tadi kan? Itu sudah cukup. Seperti dinding pemecah ombak yang ada di tepi pantai yang memecah perhatianmu agar tidak melulu ke masa lalu dan masa depan.

Nah, kuncinya ada di napas.

Bukan cuma sekadar mengambil dan membuang udara, tapi ada tekniknya.

Napas dalam waktu jeda perlu disadari. Kalau biasanya kita bernapas dengan memasukkan oksigen sampai ke dada dan cepat dikeluarkan lagi, sekarang caranya lain. Kita mau bernapas sampai perut.

Pertama, duduklah dengan rileks dan tidak menyandar. Luruskan punggungmu tapi tidak perlu membusung. Kamu boleh memejamkan mata ataupun mau tetap membuka mata, bebas. Letakkan tanganmu di perut, ringan saja tanpa perlu menekan perut. Kemudian bernapaslah melalui hidung dengan perlahan. Ketika kamu menghirup udara, bersamaan kembangkan juga perutmu dengan sewajarnya.

Selanjutnya, ketika kamu membuang napas, barengi dengan perut yang mengempis. Teruslah bernapas demikian selama minimal satu menit.

Masih mau lanjutannya?

Setelah tahu cara bernapas di atas, kini ingatlah untuk memasukkan sesi jeda ke dalam keseharianmu. Jeda bukan untuk memotong aktivitas. Kita cuma ingin membuat jeda itu bersinggungan dengan aktivitasmu. Sambil masak? Bisa banget. Sambil menunggu tempe siap dibalik dalam minyak panas, kamu bisa bernapas dengan pelan dan teratur sekaligus menyadari napasmu ini.

Sambil mandi? Juga bisa. Hayati momen ketika air mengalir dari pancuran dan mengenai kulitmu. Rasa dingin dan segarnya air yang mungkin sudah beberapa hari ini kamu lewatkan saking ramainya pikiranmu.

Intinya, sekalipun kamu di tengah suatu aktivitas, kamu tetap bisa mengambil waktu jeda. Ketika sudah di dalam waktu jeda itu, nikmatilah momennya. Sisihkan dulu pikiran dan pertajam rasa. Jika setelahnya mau lanjut mengejar ambisi lagi, silakan. Waktu jeda ini juga bisa menjadi momen recharge energimu untuk menjalani hari dengan lebih aware dan mindful.

Materi ditulis berdasarkan Sesi Jeda Santosha bersama Adi Prayuda – Mei 2021