Hidup sehari-hari tidak terlewatkan dari berbagai macam kejadian. Ada yang membuat kita senang, biasa saja, sedih, panik, marah dan sebagainya. Mungkin, ketika suatu hal buruk terjadi, tidak jarang seseorang meluapkan emosi tanpa berpikir panjang. Teman kita atau keluarga kemudian berkata, “Sabar..” kemudian kita balas, “Sabar, sabar. Gimana bisa sabar kalau begini!!”

Lalu mengabaikan ajakan teman dan melanjutkan meluapkan emosi, setelahnya merasa puas. Namun seringkah kita merasa bahwa setelah beberapa saat melampiaskan emosi tanpa rem, kita malah merasa bersalah? Mungkin ajakan teman atau keluarga untuk sabar itu ada benarnya. Tapi seperti apa sebenarnya keuntungan dari bersabar itu?

Mari kita membedahnya dari dasar terlebih dahulu. Orang yang bersabar setelah mengalami suatu kejadian biasanya tidak terlihat. Karena memang, sabar itu menjadi tenang dan sunyi. Seperti seorang ayah yang membacakan cerita yang sama kepada anaknya untuk kali yang ke delapan.

Kebalikannya, ketidaksabaran cenderung sering terlihat. Misalnya seperti bunyi klakson mobil di kemacetan, dan lain-lain. Karena terlihat, kita cenderung mengikutinya. Selain itu terkadang memberikan kepuasan tertentu, ketika kita melampiaskan amarah.

Namun tentu saja, sebenarnya kesabaran merupakan salah satu hal yang paling penting dalam hidup, dan bahkan mungkin menjadi kunci menjalani hidup yang bahagia. Memiliki kesabaran berarti dapat menunggu dengan tenang dalam keadaan frustrasi atau kesengsaraan. Kedua hal ini dapat kita temui dalam kejadian sederhana. Misalnya seperti bermain game.

Ketika merasa frustasi dan sengsara, kita dapat melatih kesabaran. Tentu sabar bukan berarti memendam perasaan marah atau sedih. Melainkan tidak bertindak atas dasar perasaan-perasaan tersebut. Para peneliti menyebutkan berbagai macam keuntungan menjadi orang yang penyabar, di antaranya sebagai berikut:

  1. Memiliki kesehatan mental yang baik

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sarah A. Schnitker, seorang profesor teologi dan Robert Emmons, profesor psikolog menyebutkan bahwa orang yang memiliki kesabaran cenderung mengalami lebih sedikit depresi dan emosi negatif. Hal ini dipercaya karena mereka dapat menghadapi situasi tidak menguntungkan dengan baik. Mereka juga merasa lebih sering bersyukur dan terkoneksi dengan dengan sekitar.

Hal ini terjadi kepada mereka yang sudah menjadi seorang penyabar. Namun, penelitian lainnya menyebutkan hal yang lebih baik lagi terjadi kepada orang-orang yang mengikuti kelas latihan menjadi sabar. Mereka mempelajari bagaimana caranya mengidentifikasi perasaan dan yang memicunya, mengelola emosi, berempati kepada sesama dan meditasi. Selama dua minggu, mereka merasa lebih sabar kepada orang lain, tidak terlalu merasa depresi, dan lebih merasakan emosi positif.

  1. Menjadi teman dan tetangga yang baik

Dalam hubungan antar sesama, kesabaran menjadi salah satu bentuk kebaikan. Mari kita ingat sahabat kita sendiri yang selalu menenangkan kita dari perasaan sakit hati yang tak kunjung mereda. Atau misalnya seorang anak yang selalu dengan semangat menyimak cerita kakeknya yang sering berulang kali disampaikan. Berdasarkan penelitian, orang-orang seperti ini cenderung lebih kooperatif, lebih berempati, lebih adil, dan lebih memaafkan.

  1. Membantu mencapai tujuan

Dalam hidup banyak dari kita memiliki tujuan, baik berupa jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang. Untuk mencapainya, kita akan melalui banyak percobaan dan banyak kegagalan. Misalnya seperti membuat makan malam. Awal-awal kita membuatnya, tidak jarang rasanya tidak seenak yang diharapkan.

Atau misalnya kita memiliki tujuan jangka panjang sebagai seorang animator. Ketika menawarkan karya kepada perusahaan animasi, banyak sekali yang ditolak karena kualitasnya belum memenuhi kebutuhan perusahaan tersebut. Tentunya mengalami banyak kegagalan tidak mudah. Bahkan dapat membuat kita putus asa.

Namun, jika kita percaya pada sebuah proses dan sabar karena belum kunjung berhasil, kemudian terus berusaha mencoba, pada akhirnya kita akan pada sampai tujuan. Penelitian juga bahkan menyebutkan bahwa seorang penyabar akan lebih puas ketika sampai pada tujuannya, terutama jika jalan yang ditempuhnya sulit, dibanding dengan orang yang tidak sabar.

  1. Memiliki kesehatan tubuh

Penelitian lain menyebutkan bahwa orang yang sabar mengalami sedikit gangguan fisik, seperti sakit kepala, munculnya jerawat dan bisul, diare dan pneumonia. Sedangkan seseorang yang tidak sabar, cenderung memiliki lebih banyak keluhan penyakit dan kesulitan tidur. Hal ini dikarenakan seorang penyabar dapat merendahkan tingkat stres keseharian yang dapat berdampak pada kesehatan fisik.

Terdapat beberapa cara untuk mengolah atau melatih rasa sabar. Beberapa di antaranya adalah membayangkan situasi yang sedang dihadapi. Katakan seseorang terlambat bertemu dengan kita. Sebelum memarahinya, kita dapat membayangkan apa yang menyebabkannya terlambat. Bisa jadi karena ada kecelakaan dan menyebabkan kemacetan.

Karena kesabaran ini berkaitan dengan kendali diri, maka kita dianjurkan untuk berlatih mindfulness, yang salah satu tujuannya adalah memiliki kendali atas diri sendiri. Latihannya dapat berupa bernapas dan menyadari perasaan yang hadir.

Selain itu, dapat juga melatih rasa syukur. Sederhananya, seperti kita diberikan dua pilihan hadiah uang. Misalnya hari ini akan mendapatkan Rp.100.000, sedangkan jika kita menunggu hingga 3 tahun, kita akan mendapatkan uang sebanyak 1 triliun rupiah. Seorang yang jarang bersyukur cenderung memilih hadiah yang dapat dengan cepat ia dapatkan. Tapi orang yang sering bersyukur, lebih mementingkan kenikmatan jangka panjang, sehingga dapat lebih sabar.

Sumber referensi: https://www.mindful.org/the-benefits-of-being-a-patient-person/