Pembohong adalah orang yang berbohong, mungkin ada di antara kita. Entah dilakukan sesekali, dalam kondisi terdesak, atau tidak disengaja. Di sisi lain, sebagian orang yang pernah berbohong merasa dirinya orang yang jujur. Agak berbanding terbalik ya. Dalam nada yang lebih sarkastik, perasaan yang demikian termasuk membohongi diri sendiri enggak sih?

Pertanyaan utamanya, kenapa seseorang berbohong?

Karena ingin mendapat proteksi. Seseorang melindungi diri sendiri dari konflik, menjaga image diri, enggak mau orang lain tahu kalau bisa salah dan gagal. Atau mungkin ada sesuatu yang ingin dipertahankan, seperti atensi dan materi. Rasa aman dan nyaman yang tercetak dalam ekspektasi pribadi membuat seseorang memilih untuk berbohong.

Akibatnya?

Jadi kebiasaan. Dalam kondisi yang menegangkan atau ada kepentingan yang diperjuangkan, bawah sadar memberi kode agar berbohong. Dengan alibi bahwa tindakan itu adalah pilihan aman. Bukan hal yang baik.

Serius banget, kan biasanya kita juga bohong kecil – kecilan!

Seperti bilang penampilan pasangan oke, padahal dalam hati berkata lain? Nah, kalau kamu ada di posisi ini, apa yang akan dilakukan? Termasuk pikirkan jika itu kamu yang penampilannya agak enggak oke (ups!), apa yang kamu harapkan? Apakah lebih baik membiarkan saja untuk menjaga perasaannya? Atau berterus terang, tentu dengan cara yang baik ya; sehingga kejujuran menjadi pondasi hubungan kalian. Selanjutnya dia akan percaya padamu dan meminta pandanganmu ketika butuh komentar dan siap dikritik.

Pendapatku pribadi, kejujuran adalah kunci..

Komitmen untuk bersikap dan berkata jujur menjadi jangkar yang menjaga seseorang tetap sadar penuh dan teguh. Jangkar ini memotivasi untuk selalu berusaha menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari, baik itu pada diri sendiri maupun orang lain. Ketika ada momen untuk jujur dan dilewatkan begitu saja, artinya satu kesempatan perbaikan pun sirna.

Saat mengetahui konsekuensinya, buat apa jujur?

Justru karena tahu konsekuensinya, maka berlakulah jujur. Mungkin belum tahu solusinya, tapi sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Aku percaya ketika niat baik, semesta tidak ingkar janji. Masalah bisa saja tetap akan ada, tapi jalan keluar juga tersedia. Jangan tanya seperti apa, karena akhir ceritanya masih jadi rahasia.

Mungkin si dia ternyata bisa menerima kejujuranmu, agak bete sih, tapi tidak meledak – ledak. Bisa juga si dia marah banget, tapi hatimu tau bahwa yang kamu lakukan benar. Sehingga membuatmu bisa mencari cara untuk memperjuangkan kejujuran yang sudah dipilih di awal. Atau si dia marah, tapi bisa melihat maksud baikmu dan bersama – sama kalian mencari solusi.

Enggak ada yang tahu akhir ceritanya, jadi ya.. dicoba saja, jalani dan temukan hikmahnya.

Masih bisakah kita kembali ke jalan yang benar?

Bisa, pasti bisa. Sebagai pengingat, biarpun berkata jujur terkesan enggak ada gunanya, tapi sebenarnya ada.

Pertama, menjaga kredibilitas. Kebohongan kecil seperti remahan kue. Sedikit, tidak terasa, dan tidak terlihat. Namun, kue yang terus tergerus menjadi remahan, lama – kelamaan akan habis juga kan?

Kedua, mencegah kebohongan berlanjut. Sebagian dari kita pernah melakukannya, yaitu menutupi kebohongan kecil dengan kebohongan yang lebih besar. Kalau diteruskan, seperti snowball. Semakin tidak karuan dan tinggal menunggu waktu untuk menggelinding dan berantakan.

Ketiga, lanjutan dari snowball tadi. Kita tidak bisa memprediksi konsekuensinya. Siapkah kita dengan segala asumsi dan antisipasi yang ada, bagaimana dengan rasa bersalah yang menetap dalam hati?

“Telling the truth and making someone cry, is better than telling a lie and making someone smile”- Paulo Coelho

Referensi: www.psychologytoday.com/us/blog/happiness-in-world/201402/why-be-honest