Enggak kerasa, lho. Kita udah dua tahun ini banyak beraktivitas dari rumah aja. Walaupun buat sebagian orang bukan masalah, mungkin ada juga yang sudah jenuh. Bukan cuma bosen, tapi khawatir dan bahkan ketakutan berlebih sama virus COVID-19 ini.

Iya nih. Saking stresnya berat badan tiba-tiba naik sama susah tidur.

Wah bisa bahaya tuh kalau keterusan. Udah coba latihan mindfulness belum? Singkatnya kalau kata Professor Mark Williams, mindfulness itu mengetahui secara langsung apa yang lagi terjadi di dalam dan di luar diri kita sendiri, pada saat ini. Nah, latihan mindfulness ini bikin kita buat memahami “hidup pada saat ini”, nggak kebawa arus pikiran masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan nanti gimana. Dan, mindfulness ini bisa bantu kita untuk lebih sadar diri.

Macem meditasi, dong? Tapi enggak biasa meditasi nih, ada cara lain?

Ya, beberapa orang memang ngelatihnya dengan meditasi. Tapi ada cara lain. Apalagi kalau kamu suka baca buku. Ya, kalau enggak, gak apa – apa kan baca buku sebentar juga. Cara melatihnya bisa dengan membaca lantang.

Membaca lantang bisa ngelatih mindfulness?

Ternyata bisa. Penasaran ya? Mindfulness ini bicara tentang keterlibatan. Kalau kita baca sendiri dalam sunyi, itu kan buat kita sendiri, ya. Nah, dengan baca lantang untuk orang lain, kita bisa terkoneksi dengan orang lain itu. Maksudnya terkoneksi dan terlibat ini gimana? Kita punya persiapan. Misalnya persiapan suara lantang, berdiri di depan mereka sambil baca buku di atas sandarannya, dan berbagi dengan mereka.

Hhhmmm.. Walaupun enggak biasa, mau deh coba. Caranya gimana?

Mulai dari langkah kecil. Kayak main sepeda, yang awalnya pake roda bantu dulu, ini juga sama, bertahap intinya. Coba bacain buku cerpen atau buku kumpulan puisi pendek. Dilakuin juga berdua dulu aja, gantian. Jadi nanti ada giliran buat dengerin orang yang membaca lantang, ada juga bagian buat mendengarkan.

Mulai dari langkah kecil. Terus apa lagi?

Bikin kejutan buat sendiri. Maksudnya gimana? Tujuannya mindfulness kan buat kita terlibat dengan momen, jadi kalau kita menghadapi hal yang sama berulang-ulang, nanti kita jadi bosen sama rutinitas. Nah, coba deh hari pertama dan seterusnya punya cara baca, tempat dan orang yang berbeda-beda. Nah, nanti masing-masing hari punya momennya tersendiri. Dengan ada momennya sendiri, kita nanti bisa hadir dalam momen itu.

Iya sih, kalau sama terus jadinya bosan. Selanjutnya apa?

Santai aja, enggak usah buru-buru. Pas baca lantang, bayangin apa yang bener-bener tertulis. Kalau tulisannya lucu dan bikin ketawa, jangan ditahan. Mau nangis gara-gara tulisannya sedih, enggak apa-apa juga. Yang pasti, jangan sampai terpengaruh sama suara sendiri, mau itu bagus atau jelek melengking. Karena nanti fokusnya jadi buyar. Paling penting, fokus sama tulisan dan fokus sama apa yang lagi dibacain. Kalau terburu-buru dan enggak fokus sama tulisan, nanti enggak menikmati. Hilang deh inti kegiatannya.

Fokus, santai, nikmati. Terus?

Pasti kalau punya kelompok main, masing-masing dari kita punya kesamaan suka baca atau pernah baca buku apa. Tapi, kegiatan membacanya enggak dilakukan bareng-bareng. Kalau misalnya kamu gabung sama klub buku, mungkin disuruh baca paragraf pertama bersamaan dengan orang lain, meskipun klub bukunya virtual ya. Nah, sekarang coba praktekkin itu. Terus ajak orang lain buat catet kalimat favorit mereka, atau ide yang terlewat ketika orang lain membaca. Ketika sudah selesai bab yang dibacanya, dan nemu ada kalimat yang insightful atau nyentuh hati, coba minta orang lain ulangi kalimat itu, dan minta meditasi sunyi selama 2 menit untuk merefleksikan kalimat itu. Terus sharing deh.

Ngajak orang buat ngelakuin sesuatu ya? Ada lagi?

Baca dengan lantang sendirian. Nah, membaca lantang sendirian bisa jadi quality time sama diri sendiri, lho. Masa kita punya quality time sama orang lain, tapi diri sendiri sering dilupain? Kalau melakukan kegiatan ini sendiri, kita jadi nyadar dan terkoneksi sama suara sendiri, juga pikiran dari penulis yang kita suka. Ini lebih seru daripada scroll media sosial kemudian nemu sepotong kalimat, dan kita like. Jadi, pilih buku favorit kita dulu, atau monolog, essai, pidato, puisi apapun itu. Setelahnya coba baca sambil bayangin si penulis. Bisa kedengeran enggak suara penulis atau karakternya? Bikin terkoneksi sama mereka dengan cara yang berbeda.

Membaca lantang sendiri bisa bikin sensasi yang berbeda juga ya. Terus?

Ingat-ingat tulisan, kata, atau kalimat yang jadi favorit kamu. Udah gitu, coba baca dengan lantang. Kalimat yang kamu sukai itu, ketika udah kamu bener-bener ingat, bikin kamu bisa terkoneksi dengan keadaan sekarang. Kata-kata itu akan terus bersama kamu, kayak napas.

Ternyata nginget-nginget kalimat favorit ada manfaatnya ya.

Yap, bener banget. Kegiatan membaca lantang ini sebenernya bisa bantu kita latihan mindfulness. Cuma mungkin orang-orang belum tahu. Mulai sekarang, coba deh kegiatan ini. Mulai dari langkah kecil, kayak baca cerita pendek. Terus lakuin dengan cara yang berbeda-beda. Fokus sama kegiatannya, ngajak orang lain, dan coba baca sendiri. Dengan ngelakuin kegiatan ini, harapannya bisa bantu bikin jiwa adem dan enggak khawatir sama masa depan dan enggak dibayang-bayangi oleh masa lalu.

Sumber referensi: https://www.mindful.org/how-reading-aloud-can-be-a-mindfulness-practice/ (How Reading Aloud Can Be a Mindfulness Practice)