Dua tahun terakhir menjadi tahun yang mungkin cukup berat untuk dilalui. Banyak dari kita enggak bisa ada di satu kota yang sama dengan keluarga. Ketika mau pulang ke kampung halaman, ada pikiran takut jadi pembawa virus COVID-19 dan menularkan ke orang rumah, jadi enggak bisa pulang. Akhirnya cuma bisa berhubungan jarak jauh sama keluarga yang di rumah.

Gara-gara enggak bisa mudik, mungkin ikatan keluarga jadi agak renggang?

Jangan pesimis gituu.. Walaupun dua tahun terakhir terpisah jarak, kita masih bisa lho menjaga kehangatan di dalam keluarga. Caranya dengan melakukan hal-hal di bawah ini dengan sebaik mungkin.

Boleh dijelasin gimana maksudnya?

Pertama, bagaimanapun kita belajar berkomunikasi, banyak baca dari buku dan internet tentang keluarga, kita enggak akan pernah jadi keluarga yang sempurna. Setiap orang tua atau anak pasti pernah ngelakuin kesalahan. Entah kita ke orang tua enggak nurut dan malah ngelawan. Atau orang tua bentak-bentakin anak dan ngasih banyak tekanan ke mereka. Gara-gara ngelakuin hal-hal itu, mereka jadi sakit hati.

Seseorang jadi ngerasa bersalah dan mikir bahwa dia adalah anggota keluarga yang buruk. Padahal sebenarnya, ketika kesalahan terjadi itu memang manusiawi. Maka dari itu, harus ngelatih buat menerima ketidaksempurnaan yang dimiliki. Caranya dengan mendengarkan diri sendiri. Ketika ada perasaan negati, coba buat duduk atau berbaring sehingga kondisi tubuh jauh lebih nyaman. Setelah itu bilang ke diri sendiri, “Aku ngerasa aku belum jadi anggota keluarga yang baik. Tapi sebenarnya aku udah ngelakuin yang terbaik. Aku sayang keluarga aku dan akan berusaha lebih baik lagi.”

Ohh dengan menenangkan diri bisa jadi cara buat menerima diri ya? Terus yang kedua?

Enggak dipungkiri kita udah punya kesibukan masing-masing. Kita yang jadi orang tua sibuk sama kerjaan, sedangkan kita yang jadi anak sibuk sama temen-temen dan sosial media. Ditambah karena jarak yang jauh ini komunikasi di dalam keluarga jadi jarang. Nah, supaya kita enggak ngerasa ada kerenggangan, mulai dari ngehubungin keluarga masing-masing. Lewat telepon atau video call misalnya. Terus, tanya apa aja yang mereka alami hari itu, atau kegiatan selama seminggu.

Ketika kita ngobrol dengan mereka, jangan sekadar denger aja. Tapi simak dengan rasa penasaran. Maksudnya adalah, kita bener-bener tertarik sama apa yang lagi diceritain. Coba tanya lebih dalam lagi. Misalnya beberapa hari lalu anak kita video call sama temen-temennya. Coba tanya-tanya apakah ada cerita lucu, atau mereka lagi ngerencanain suatu proyek.

Atau misalnya orang tua kita lagi ngerjain tugas kantornya. Kita coba tanya, apakah di kantor lagi ada masalah, atau gimana hubungan orang tua kita sama rekan kerja mereka. Hanya dengan menyimak dan nanya-nanya lebih dalam, kita bisa lho ngerasa kedekatan meskipun terpantau jarak yang jauh.

Ahh, bukan cuma ngedengerin, tapi nyimak juga? Lanjut, lanjut.

Coba jujur deh. Pasti ada perasaan enggak nyaman ketika sesuatu terjadi sama keluarga. Misalnya ya kita dibanding-bandingin sebagai anak. Atau ngerasa jarang dihubungi sama anak sebagai orang tua. Cuma, karena takut salah ngomong, kita jadi diem aja dan pura-pura enggak terjadi apa-apa. Nah, sebenarnya hal yang kayak gini bikin bom waktu lho. Entah itu nyimpen perasaan enggak seneng sampe parahnya jadi benci, atau bahkan jadi enggak percaya sama keluarga sendiri.

Untuk itu, coba sekarang buat berani untuk berkomunikasi. Caranya ketika kita ngerasa enggak nyaman, tenangin diri dulu sebelum bicara. Ini buat ngehindarin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Ketika sudah tahu sumber masalahnya di mana dan udah tenang, waktunya buat berkomunikasi.

Bisa dimulai dengan kayak gini, “Aku ngerasa akhir-akhir ini sering dibanding-bandingin sama tetangga. Dan aku ngerasa sangat enggak nyaman dengan kondisi ini. Karena pencapaian orang beda-beda dan aku yakin dengan usahaku di jalanku, pasti bisa berhasil. Aku berharap daripada ngebanding-bandingin, dukung aku. Bisa dengan nanya kesulitan aku gimana, apa aja rencana-rencana aku.”

Atau, “Ayah ibu ngerasa semenjak kalian kuliah di luar kota, jadi jarang nelpon ke rumah. Ayah sama ibu enggak minta apa-apa sebenernya. Kami cuma kangen, dan pengen ditanya kabar. Kalau sehari sekali susah, seminggu sekali juga udah cukup. Sekadar say hi aja udah ngobatin rindu.”

Dipendem malah nggak ngubah semuanya jadi lebih baik ya ternyata? Terus, terus?

Sering enggak sih kamu merasa enggak sadar sama perlakuan orang tua atau anak? Misalnya orang tua yang bikinin masakan tiap hari, kerja banting tulang buat kita dan yang lainnya, tapi kita lupa bilang makasih? Atau ketika kita minta tolong sama anak buat bantu nyuci piring, sama beres-beres rumah, kita enggak inget buat mengapresiasi bantuan mereka?

Nah, dengan memulai berlatih apresiasi dan bersyukur atas perlakuan mereka, keadaan di keluarga akan jadi harmonis. Yang mungkin awalnya bikin frustrasi dan banyak nuntut, bisa berubah jadi kooperatif dan banyak berterima kasih. Kalau enggak biasa dengan bilang makasih atas pengorbanan orang tua atau anak buat kita, mulai aja dari yang perlakuan kecil.

Misalnya ketika lagi kangen sama anak yang lagi ngerantau, terus mereka telepon, di akhir bisa bilang, “Makasih ya udah telepon ayah sama ibu. Jadi obat rindu nih.” Atau juga bisa dengan, “Yah, bu, makasih udah dikirimin makanan dari rumah. Enak banget, bikin nggak mau jajan dan kangen rumah.”

Sederhana tapi bermakna, ya? Selanjutnya apa lagi?

Sering enggak sih kita ngomong sesuatu yang kita sesali enggak lama kemudian? Ya mungkin gara-gara lagi capek kerja atau lagi berantem sama temen. Pas gitu telponan sama keluarga, tapi kita malah ngambek, padahal mereka enggak salah apa-apa? Atau malah anggota keluarga lain yang kayak gitu ke kita?

Tidak usah berkecil hati. Sedih dan kecewa gara-gara itu normal kok. Tapi, ada baiknya buat memaafkan diri dan sesama. Meskipun kita tahu enggak jarang ngerasa kata, ‘maaf’ nggak cukup, tapi yakin deh, kenyataannya enggak kayak gitu kok. Lily Tomlin pernah berkata, “forgiveness means letting go of any hope for a better past.” Sejatinya kita hidup di saat ini. Cara terbaiknya adalah memaafkan.

Kita bisa mulai dengan bicara dalam hati kayak gini, “Apapun yang jadi penyebab aku sakit hati, entah itu karena lagi kesel, bingung, kita semua bikin kesalahan. Aku akan memaafkannya.”

Memaafkan sebelum orang itu minta maaf. Setuju. Lanjut.

Semakin sering kita sibuk sama dunia sendiri, kita enggak inget sama apa yang lagi dihadapin oleh anggota keluarga yang lain. Saking enggak ingetnya, kita tidak tahu apakah mereka lagi menghadapi kesulitan yang ternyata butuh banget dukungan. Nah, mulai sekarang, coba latih memberi dukungan.

Tidak perlu hal-hal yang ribet kayak ngasih uang atau barang. Kenyataannya, banyak yang lebih butuh dukungan moral daripada barang. Kita bisa lakuin hal-hal sederhana. Kayak nelpon anggota keluarga yang jauh. Misalnya anak lagi ngerjain tugas sekolah sama kuliah, kita bisa ngasih semangat, atau bahkan cerita tentang pengalaman kita waktu jadi mahasiswa. Atau misalnya orang tua stres ngehadapin masalah di rumah, kita coba aja ngobrol tentang keadaan rumah. Kadang sebatas curhat udah lebih dari cukup.

Meskipun sibuk, jangan lupain orang terdekat kan? Selanjutnya gimana?

Terakhir dan enggak kalah penting, bermain dan bersenang-senang. Dari jarak yang jauh gini, pasti kita kangen jalan-jalan sama keluarga saat liburan. Saat-saat itu kita ngerasa bahwa ikatan keluarga makin erat. Tapi dengan adanya jarak, kita jadi nggak ada kesempatan untuk bersenang-senang bersama.

Tapi ya tentu aja harusnya jarak enggak menghalangi buat bisa bersenang-senang sama keluarga toh? Dengan kecanggihan teknologi kita masih bisa ‘liburan’ bareng keluarga. Misalnya di hari sabtu atau minggu, buat video call. Terus bikin permainan sederhana jarak jauh. Misalnya kayak sambung kata. Atau bisa juga mengakses website wisata sambil video call. Kayak website https://driveandlisten.herokuapp.com/.

Yang pasti jarak bukan jadi alasan untuk nggak bisa liburan sama keluarga ya?

Betul banget. Kita enggak pernah bisa jadi keluarga yang sempurna. Tapi upaya untuk menjadi keluarga yang sejahtera enggak pernah terlepas dari genggaman. Yang pasti, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengeratkan ikatan kekeluargaan, meskipun terpisah oleh jarak.

Sumber referensi: https://www.mindful.org/7-things-mindful-families-do-differently/ (7  Things Mindful Families Do Differently)