Apa berita yang sekarang marak dibahas di media? Dengan cepat kita bisa menjawab dengan runtut. Mulai dari berita pandemi, dana bantuan sosial yang diduga dikorupsi, dan beragam kejadian lain yang mengusik pikiran dan perasaan masyarakat. Pertanyaan dan keraguan mulai terkumpul, apakah masih ada orang baik di dunia ini?

Jawabannya sangat sederhana dan tidak perlu pemikiran berbelit, masih ada orang baik dunia ini. Masih ada dan aku yakin akan terus ada. Jika kamu kesulitan menemukan orang baik di sekitarmu, sepertinya akan baik jika dimulai dari diri sendiri. Jadilah orang baik dan biarlah kebaikanmu menginspirasi orang lain. Bingung mau mulai dari mana? Beberapa kisah di bawah ini dapat menjadi awalan yang baik.

  • Uluran hangat di kasir supermarket

Aku sedang berdiri di depan kasir supermarket dan merasa cemas ketika tagihan di layar lebih banyak dibandingkan uang yang kubawa saat itu. Beberapa barang mulai dibatalkan dari daftar transaksi ketika seseorang yang antri di belakangku menepuk pundak. “Jangan dibatalkan, biarkan aku yang membayarnya ya”. Aku menolak dengan sungkan, namun dia bersikeras.

“Ibuku sedang dirawat di rumah sakit. Setiap hari aku menjenguknya sambil membawakan seikat bunga. Menurutnya tindakan itu boros dan tidak berguna. Kini tolong terimalah uang ini. Aku ingin melakukan hal berguna dan ini sebagai ganti bunga untuk ibuku,” ujarnya dengan tulus. Tidak ada yang bisa kuucapkan selain terima kasih dan perasaan yang menghangat di dalam hati.

  • Kebaikan dari kolong mobil

Seusai praktek, aku berjalan menuju tempat parkir rumah sakit. Pikiranku terbang ke pasien rawat jalan yang kutemui tadi. Dia didiagnosa mengidap kanker pankreas. Kemudian seorang pria paruh baya berjalan mendahuluiku dengan membawa sekotak perkakas. Pria ini berjongkok di samping mobil dan mulai mengeluarkan beberapa alat. Refleks aku mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Seorang pria lainnya sedang berbaring di kolong mobil untuk memperbaiki bagian mesin tersebut. Ketika pria ini keluar dari kolong mobil, aku terkejut. Dia adalah pasien yang sedang kupikirkan. Ekspresi kagetku dijawabnya dengan ringan, “Kanker tidak bisa menghentikanku untuk peduli pada sesama, dok.” Setelah itu ia mengangguk dan mempersilakan pria paruh baya itu menyalakan mesin mobil. Ketika deru mesin terdengar, dia tersenyum dan melangkah pergi ke mobilnya yang terparkir dekat situ.

  • Tali sepatu

Aku memberikan kesempatan cucuku untuk masuk ke sebuah area bermain anak dalam mall. Saat itu keadaan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa anak saja. Seorang anak laki – laki berjalan di seberang kami dan cucuku melambaikan tangan memintanya mendekat. Dengan segera dia berjongkok dan mengikat tali sepatu anak tadi. Belakangan ini kami sedang mengajarkannya untuk mengikat tali sepatunya sendiri. Ketika tali sepatu anak tadi sudah tersimpul sempurna, keduanya saling tersenyum dan berpencar ke wahana bermain favorit masing – masing.

  • Pemadam kelaparan

Di sebuah restoran cepat saji, nampak dua orang petugas pemadam kebakaran yang sedang berdiri mengantri. Beberapa saat kemudian, sirene yang terdapat di mobil dinas berbunyi cukup nyaring. Kedua petugas ini bergegas keluar dari antrian dan setengah berlari ke tempat parkir. Melihat hal ini, sepasang pelanggan yang baru saja menerima pesanan mereka menyusul dan menyerahkan makanannya. Mereka lalu masuk lagi ke dalam restoran dan mengantri di baris paling belakang.

Kejadian ini tidak luput dari mata manajer restoran. Ketika tiba giliran mereka untuk menerima pesanan dan membayar, manajer itu menghampiri kasir dan menyampaikan bahwa pesanan itu gratis. Kebaikan hanya pantas dibalas dengan kebaikan.

  • Petugas counter yang berdedikasi

Di masa pandemi seperti ini, lansia sepertiku seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Namun suatu hari, aku harus ke kantor pos untuk mengirim paket. Setibanya di sana, aku memilih counter yang paling sepi dan membuat jarak cukup besar dalam antrian. Ketika tiba giliranku, petugas pos menyadari kekhawatiran yang menyelimutiku. Dia mengeluarkan tisu basah dan mengelap seluruh area meja counter sebelum memintaku mendekat. Bahkan ketika aku melangkah maju, dengan segera dia mundur beberapa langkah.

Dengan gesturnya yang sopan, dia memintaku untuk mundur beberapa langkah sebelum dirinya mendekat ke arah counter dan memproses pembayaran. Bahkan dia juga mengelap alat EDC ketika melihatku mengeluarkan kartu kredit. Terakhir, dia mengangguk hangat dan tersenyum padaku sambil mengulurkan satu pak tisu basah baru untuk dibawa pulang.

Semua cerita ini memiliki dua kesamaan. Yang pertama, semua terjadi di kehidupan sehari – hari. Kedua, semua pelaku kebaikan itu pun orang biasa yang tidak berpangkat, bukan bangsawan ataupun orang terkenal. Orang biasa seperti kita. Yuk mulai buat cerita dan tebarkan kebaikan versimu!

Referensi: www.rd.com/article/kindness-strangers/