Disadari atau tidak, banyak dari kita memiliki masa lalu yang kerap membayangi dan membuat tidak fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Misalnya ketika gagal diterima di sebuah perusahaan hanya karena salah bicara ketika wawancara. Padahal tahu, mencari pekerjaan di saat pandemi seperti ini rasanya seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami.

Lalu berandai-andai, “Kalau saja aku tidak salah bicara ketika wawancara, pasti aku punya penghasilan yang tetap sekarang.” Mungkin kita melakukan hal yang serupa ketika kehilangan barang berharga padahal sudah disimpan dengan baik. Atau  ketika pasangan memutuskan untuk menyudahi hubungan karena masalah sederhana.

Saat dalam sebuah pertemuan misalnya, kita diharuskan memerhatikan apa yang sedang dibahas. Tetapi meskipun tubuh hadir, pikiran menolak untuk fokus dengan melamunkan hal yang sudah berlalu.

Saat menghadapi situasi-situasi itulah acap kali berkata kepada diri sendiri, “Udah.. Ikhlasin aja..’, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Masih dihantui oleh masa lalu. Hal ini terjadi karena sering memaknai “ikhlas” sebagai “melupakan dan melanjutkan.” Atau terkadang sebagai diam saja tanpa melakukan apa-apa terhadap yang sudah berlalu.

Padahal ikhlas tidak sesederhana itu.

Ikhlas adalah menghadapi hal yang sudah terjadi sebagaimana bagian dari hidup. Tercermin dalam sebuah adegan di film Tenet yang disutradarai oleh Christopher Nolan, ikhlas diilustrasikan dengan menerima apa yang sudah terjadi sebagai bagian dari hidup.

Protagonist: “But can’t we change things if we do it differently?”

Neil: “What’s happened, happened. Which is an expression of faith in the mechanics of the world. It’s not an excuse to do nothing.”

Protagonist: “Fate?”

Neil: “Call it what you want.”

Protagonist: “What do you call it?”

Neil: “Reality…”

Neil berkata bahwa apa yang sudah terjadi, sudah terjadi. Kita memang selayaknya ikhlas akan hal tersebut. Tapi bukan berarti kita melupakannya atau diam saja. Dengan menghadapi dan menerima apa yang sudah terjadi di masa lalu, kita dapat melanjutkan hidup.

Lalu bagaimana caranya menghadapi apa yang sudah terjadi di masa lampau? Berikut adalah 3 cara agar dapat mengikhlaskan apa yang sudah berlalu.

  1. Memaafkan diri sendiri

Ketika membuat kesalahan mungkin kamu menyalahkan diri sendiri. “Kenapa aku begini, kenapa aku begitu?” Namun yang cukup penting dalam proses mengikhlaskan ini yaitu memaafkan diri sendiri.

Dalam prosesnya seseorang perlu menyadari pikiran. Dengan sadar penuh cobalah untuk membedakan apakah kesalahan yang dibuat di masa lalu terjadi karena melanggar nilai moral atau karena belum mahir dalam suatu keterampilan. Contohnya ketika gagal wawancara padahal sudah mencari tahu teknik-tekniknya. Tapi karena belum memiliki pengalaman, masih belum mahir menggunakan kemampuan berkomunikasi yang mengantarkan kepada  kegagalan.

Atau dalam sebuah hubungan. Kita sering membaca atau mendengar kisah asmara orang lain bagaimana mereka bertengkar dan rujuk. Tapi karena belum menghadapinya secara langsung, masih gagap dalam menghadapi masalah dalam hubungan yang akhirnya kandas.

Dengan menyadari hal tersebut, seseorang dapat dengan sederhana memaafkan diri karena faktanya kesalahan bukanlah akibat dari melanggar nilai norma, tapi hanya belum memiliki kemampuan yang cukup ketika dibutuhkan.

2. Bertanggung jawab

Bagaimana caranya bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat di masa lalu? Yaitu dengan berusaha menanggulangi penyebab kesalahan yang terjadi agar tidak lagi jatuh ke lubang yang sama. Setelah menyadari penyebab dari kesalahan yang telah terjadi adalah karena belum memiliki kemampuan cukup, tidak hanya akan memaafkan diri tapi juga mencoba memperbaiki diri.

Kita dapat fokus melatih kemampuan yang dibutuhkan. Misalnya ketika gagal dalam wawancara, fokus berlatih kemampuan berkomunikasi di depan perekrut. Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan.

3. Menerapkan penerimaan

Belajar menerima kesalahan di masa lampau tidak lebih dari sesuatu yang dapat terjadi pada siapapun. Menerima kesalahan akan menghindarkan dari berandai-andai dan membuat skenario-skenario yang tidak pernah ada, yang tidak akan menguntungkan sama sekali.

Berandai-andai dapat membuat seseorang menolak akan apa yang sudah terjadi, dengan memberikan keyakinan dan kepastian bahwa apa yang dilakukan sudah tentu benar. Nyatanya, kepastian tidak selalu seperti itu. Seperti halnya ketika sudah pasti menyimpan barang dengan baik tapi ternyata barang itu tetap saja hilang.

Dee Lestari dalam Supernova menyebutkan, “Segalanya terjadi tak terduga-duga. Hanya ada satu yang pasti dalam hidup, yaitu ketidakpastian. Hanya ada satu yang patut Anda harapkan datang, yaitu yang tidak diharapkan.”

Dengan menerima ketidakpastian dalam hidup, seseorang tidak akan terbayangi oleh masa lalu. Terhindar dari melamunkan hal-hal yang tidak akan terjadi sehingga dapat mulai ikhlas dengan apa yang sudah berlalu.

Tentu untuk ikhlas dengan menghadapi masa lalu sebagai bagian dari hidup yang tak terhindarkan tidaklah mudah. Akan tetapi dengan berani mencoba untuk ikhlas, secara tidak disadari dapat membantu untuk lebih konsentrasi, hidup di sini-kini, dan membuka banyak pintu untuk bersyukur.

Referensi: How to Let Go of an Old Regret – Christine Carter (https://www.mindful.org/how-to-let-go-of-an-old-regret/)