Disakiti dan dikecewakan memang bukan perkara sepele untuk dilupakan begitu saja. Tapi menggenggam erat dendam justru hanya membuatmu merasa lebih buruk. Enggak cuma soal emosi, tapi bisa menyakiti diri dalam arti harafiah lho! Terus memikirkan kebencian dan dendam bisa meningkatkan tensi dan merangsang tubuh sehingga memicu stress. Dampaknya adalah imunitas menurun dan sakit.

Tapi sakitnya itu lho, jleb banget!

Iya, ngerti kok. Kita semua pernah ada di posisi yang sama. Satu hal yang pasti, memaafkan adalah satu-satunya cara yang membebaskan kita dari rasa sakit ini. Baik itu sakit hati maupun sakit fisik. Kita coba pahami dan latih perlahan ya.

  1. Sadari arti memaafkan

Sebelum kita memberikan maaf, sadari apa yang kamu lakukan agar tindakan memang atas kesadaran penuh. Bukan karena biar masalah cepet selesai apalagi karena terpaksa. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan yang ada dan mengabaikan sakit hatimu. Namun kita dengan sadar penuh tahu memilih untuk memaafkan karena ingin membebaskan diri dari rasa sakit, amarah, dan stress yang menjerat.

  1. Rasakan pahit getirnya

Entah itu luka yang dalam atau seperti goresan belaka, kamu berhak untuk merasa sakit. Perasaanmu valid. Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang dibutuhkan saat ini? Kalau kamu membutuhkan dukungan, silakan bersandar. Kalau kamu butuh waktu, silakan, tidak ada yang buru – buru kok.

  1. Validasi perasaan

Apapun yang kamu rasakan, lebih baik diakui dan divalidasi. Sekalipun terkesan remeh, cuma tersinggung sedikit. Tidak ada yang namanya remeh dan cuma gitu aja dalam perasaan. Justru dengan kita mengakui dan membuat validasi, hal ini menyadarkan bagian rasional dari otak sehingga seseorang bisa lebih menerima keadaan dan tidak overthinking. Yang terkesan remeh kalau didiamkan justru bisa menjadi luka dalam yang tidak kunjung padam.

  1. Luapkan tanpa melampiaskan

Daripada ditahan dan disembunyikan, luapkan saja perasaanmu. Tentunya dengan sikap dan tindakan yang dalam batas wajar ya. Tuangkan rasa sedih dan kecewamu dalam tulisan, entah itu dalam jurnal atau ketikan di gadgetmu. Berbicara alias curhat ke orang yang kamu percaya juga merupakan opsi yang baik untuk dilakukan. Obrolan dari hati ke hati dapat menambah perspektif kita dan bisa membantu untuk merasa lebih baik.

  1. Menggeser fokus

Untuk bagian ini, tidak perlu langsung dipaksakan. Perlahan saja, memang ini tidaklah mudah. Kamu bisa mencoba untuk menggeser persepsimu dan membayangkan alasan dia menyakitimu. Hal ini tidak bertujuan untuk membenarkan tindakannya, tapi bisa menambah perspektif baru  dan semoga bisa membuat perasaanmu lebih baik.

  1. Mulai dengan langkah kecil

Kita bisa memulai dari berlatih memaafkan hal yang sederhana, baik itu pada diri sendiri maupun orang lain. Sebel sama diri sendiri karena lupa nyatet daftar belanja bulanan? Bilang pada dirimu sendiri, “enggak apa-apa..”

Effort untuk mendeklarasikan rasa maaf membantu kita untuk sadar penuh dan sungguh memaafkan. Kamu bisa menulis notes di HP atau memulai percakapan. Kamu bisa pilih nih, bisa monolog dengan diri sendiri, rekan yang kamu percaya, atau langsung dengan dia yang akan kamu maafkan.

  1. Kamu bukan yang pertama, terakhir, atau satu – satunya

Memaafkan memang butuh keberanian dan keikhlasan. Sulit. Iya dong, kalau gampang mah semua orang sudah saling memaafkan ya. Tapi, memaafkan adalah hal yang sangat bisa dilakukan. Kamu bukan orang pertama atau satu – satunya yang harus memaafkan. Bahkan kamu pun pasti sudah pernah memaafkan di hari lalu. Ya kan?

Jadi yang kali ini, juga pasti bisa..

Kamu juga bukan orang terakhir yang harus memaafkan. Suatu hari akan ada orang lain yang memaafkanmu. Besok juga sepertinya ada hal baru lagi yang perlu kamu maafkan. Teruslah memaafkan.

  1. Sabar, semua ada prosesnya

Seperti yang tadi aku bilang, enggak gampang, tapi memungkinkan. Kalau hari ini rasanya masih sakit, enggak masalah. Tapi harus ada satu hal yang dimaafkan setiap harinya ya. Selesaikan perkara kecilmu. Jika sudah tiba waktunya menyelesaikan perkara yang besar sekalipun, hadapilah. Jangan bersembunyi apalagi lari. Perlahan, dari yang kecil, dan sempatkan mengambil napas dalam sebelum kamu memulainya.

  1. Enggak perlu cari kambing hitam

Mengeluhkan, menyudutkan, sampai menimpakan kesalahan pada orang lain rasanya bikin lega? Well, enggak juga. Menuduh orang memberikan perasaan lega yang palsu. Sebenarnya feeling enggak sreg itu tetap ada dalam pikiran. Jika dibiarkan malah meningkatkan stress dan merusak relasi dengan orang lain. Jadi, enggak usah tuduh-menuduh ya..

  1. Latihan mindfulness

Jangan bosen dulu, kan memang mindfulness menjadi salah satu praktek keseharian alias way of life. Semakin sering berlatih, maka kita semakin peka, lebih welas asih, dan akan lebih mudah untuk memaafkan. Yuk mulailah dari menyadari napas, sadari laku, dan sadari diri.

  1. Temukan arti dari sakitmu

Setiap sakit dan luka yang mampir pasti memiliki makna. Mungkin pesannya tentang welas asih pada diri sendiri, keberanian, empati, ketulusan, dan macam – macam. Coba temukan apa pesan yang mau disampaikan dalam setiap pengalaman. Viktor Frankl, seorang psikiater dan Holocaust survivor menyebutkan hal menarik dalam bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning. Dalam keadaan paling menyakitkan dan menakutan, kita tetap memiliki wewenang untuk membentuk arti akan kehidupan, dan ini adalah energi terbesar untuk penyembuhan batin. Semua ada hikmahnya.

“True forgiveness is when you can say, thank you for that experience”- Oprah Winfrey

Referensi: https://www.mindful.org/let-go-11-ways-forgive/