Kita sering mendengar kata benci di kehidupan ini. Mulai dari seruan emosi anak remaja yang lagi berantem, sampai berita serius di media tentang ujaran kebencian yang dilakukan oleh oknum tertentu. Ya, semakin bertambahnya usia, semakin lekat dan akrab pula dengan perasaan yang satu ini. Simak beberapa insight tentang rasa benci biar enggak salah menilai apalagi buru – buru menghakimi.

Kita sering salah mengartikan benci

Rasa benci adalah emosi negatif, termasuk adanya motivasi untuk mengeliminasi obyek kebencian itu. ketika kata benci sering terlontar dalam percakapan harian, sebetulnya orang – orang tidak seserius itu. Sebuah penelitian dilakukan dan meminta peserta untuk bercerita tentang pengalamannya dalam membenci sesuatu. Hasilnya, mereka juga kesulitan menemukan momen di mana mereka sungguh merasakan kebencian. Jadi jangan latah bilang benci ya..

Lebih mudah membenci suatu kelompok dibanding individu.

Kebencian cepat menyebar jika objeknya adalah kelompok. Contohnya ketika membaca berita tentang tindakan suatu kelompok yang melanggar protokol kesehatan. Sekalipun tidak kenal dan terlibat langsung, kita bisa merasa sebel dan benci pada mereka. Tapi ketika sedang berantem sama teman, rasa benci tidak semudah itu munculnya. Masih ada memori positif yang muncul tentang teman kita untuk mengingatkan agar tidak cepat membenci. Coba direnungkan sebentar, kenapa sih sampai membenci suatu kelompok tertentu?

Kebencian lebih cepat menyebar dari kemarahan.

Tahu sendiri kan gimana cepatnya penyebaran ujaran kebencian di medsos yang bisa menyatukan netizen dari berbagai tempat? Ya begitulah, sekalipun rasa bencinya hanya sementara tapi kita bisa cepat ikut memvalidasi rasa benci ini. Beda halnya dengan kemarahan. Ketika teman dekatmu mengamuk menceritakan kemarahannya terhadap orang yang menabrak mobilnya kemarin, kita bisa berempati tapi tidak merasakan kemarahan yang sama. 

Kebencian bukanlah sesuatu yang instan.

Marah adalah reaksi spontan atas suatu hal yang tidak sesuai ekspektasi. Triggernya bisa satu hal dan mungkin remeh. Tapi kebencian adalah suatu akumulasi perasaan, atas berbagai kekecewaan, kesalahan, bahkan mungkin atas berbagai asumsi yang terjadi sekalipun belum tentu terbukti kebenarannya. Jadi, sadari emosi dan kelola kemarahanmu sebelum menggerogoti pikiran dan perasaan. Sebaliknya, jika sudah menyakiti perasaan orang lain, segeralah meminta maaf dan tawarkan tindakan perbaikan.

Benci, marah, dan cibiran adalah tiga hal yang berbeda.

Kita membenci seseorang karena dirinya, pokoknya dia salah total. Sementara kita marah sama seseorang, karena tindakannya, bukan karena pribadinya secara keseluruhan. Selain itu, marah juga menjadi luapan emosi yang sebetulnya menyimpan tanda bahwa kamu masih ingin berinteraksi dengan dia. Ketika kita masih mau marah, artinya kita masih mau berurusan dengan dia, entah ingin menyadarkan kesalahannya atau sekadar untuk saling terbuka.

Lain cerita kalau kita sudah marah berulang kali tapi tidak ada perubahan sikap dan pemahaman antara dua pihak. Akhirnya muncul rasa meremehkan dan mencibir serta perasaan kalau dia nggak pantas mendapat perhatianmu, yang dalam wujud kemarahan. Rasa sebel masih ada, tapi kita memilih untuk memandang rendah orang itu dan berjarak dengannya. Sikap ini ibarat cold version dari kebencian, yaitu sama – sama tidak menyukai orang yang menyakiti secara keseluruhan, tapi tidak ada niatan untuk membalas dendam dan melakukan serangan apapun. Walaupun terkesan tidak agresif, namun sikap mencibir, meremehkan, dan mengabaikan orang lain juga tidak baik ya guys, bagi dirimu dan dirinya.

“Kebencian menyebabkan banyak masalah di dunia ini, tapi tidak menyelesaikan satu masalah pun.” – Maya Angelou

Referensi: www.psychologytoday.com/us/blog/between-cultures/201911/understanding-hate