Merencanakan keuangan adalah pondasi penting dalam mencapai kesejahteraan finansial.  Hal ini membuat kita harus memiliki kemampuan yang baik dalam mengelolanya seperti menabung, berinvestasi dan lain-lain. Tak jarang beberapa dari kita sering membandingkan besaran gaji yang diperoleh. Padahal membicarakan masalah keuangan, terutama pendapatan merupakan isu yang sangat sensitif. 

Pasalnya ketika membandingkan pendapatan dengan orang lain, kita bisa merasa iri, overthinking, khawatir dan sebagainya. Seperti yang sedang diperbincangkan di Twitter saat ini. Seorang pengguna Twitter berkata dalam sebuah cuitannya bahwa dengan gaji 5 juta rupiah, kita bisa lebih kaya daripada orang dengan gaji 10 juta rupiah jika pintar mengelola keuangan. Banyak orang yang membalas cuitan tersebut dengan membanding-bandingkan pendapatan juga tanggungan yang dimilikinya.

Tentu sangatlah wajar jika memiliki kekhawatiran dan kebingungan mengatur keuangan. Tapi selain mengelola hal finansial, perlu kemampuan mengelola rasa takut dan khawatir yang dimiliki.

Seperti melakukan meditasi ringan selama 10 menit. Soal keuangan tentunya tidak akan selesai. Tapi, dengan melakukan meditasi seseorang dapat menyadari rasa takut dan kekhawatiran sehingga dapat membuat perencanaan keuangan dengan baik. Dalam meditasi ringan 10 menit, kita dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Ketika memikirkan keuangan, sadari perasaan apa yang muncul.

Misalnya rasa takut, khawatir atau sedih? Di bagian tubuh manakah perasaan itu muncul? Perhatikan baik-baik terhadap perasaan tersebut. Biarkan perasaan itu hadir tidak perlu menolaknya. Terima saja dan biarkan tubuh merasakan emosi yang hadir.

Setelah mendengarkan perasaan-perasaan itu, katakan kalimat sederhana yang menenangkan semisal, “Aku sayang diriku sendiri dan aku mampu untuk menyelesaikan masalah keuangan. Aku lebih besar daripada masalah keuanganku sendiri.”

Kita dapat mempraktekkan meditasi ringan ini ke berbagai macam situasi keuangan yang sedang dihadapi.

  • Masalah Hutang

Hutang dapat diyakini sebagai masalah yang tidak bisa dianggap remeh. Meskipun memiliki hutang sebenarnya tidak benar-benar salah, hal itu dapat mengubah cara pandang kita terhadap hidup yang sedang dijalani. Memiliki hutang dapat membuat seseorang sebagai makhluk yang tak lebih dari sekadar tukang pinjam uang. Perasaan malu memiliki hutang dan kehilangan uang dapat membuatnya terisolasi dalam pikiran sendiri.

Penting bagi seseorang yang memiliki hutang untuk berpikir kebalikannya. Yakini diri bahwa meskipun memiliki hutang, bukan berarti menjadi makhluk yang serba salah dan serba sendiri. Terdapat sebuah mantra yang dapat dilakukan, yakni GPS atau Give to charity, Pay down your debt, dan Save something for yourself.

Melakukan GPS tentunya tidak perlu dalam jumlah yang besar. Bisa memulainya dalam jumlah yang kecil, bahkan tidak perlu dalam bentuk uang. Misalnya ketika Give to charity bisa memberikan jasa seperti menjadi sukarelawan dalam membagi makanan gratis untuk masyarakat yang kurang mampu.

Atau misalnya ingin beramal dalam bentuk uang. Kita bisa saja beramal Rp.15.000 setiap harinya selama sebulan. Membayar hutang Rp.15.000 sehari dan menabung Rp.15.000 sehari. Di akhir bulan, akan melihat diri sebagai seseorang yang rajin menabung dan rajin beramal.

Ingatlah pepatah orang tua, “sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.”

  • Kesadaran terhadap penghasilan

Sadari penuh atas kerja keras dan nilai yang pantas diberikan untuk diri sendiri setelah melakukan sebuah pekerjaan. Sadari seberapa besar apresiasi yang diberikan oleh orang yang mempergunakan jasa. Ketika mendapatkan penghasilan, rasakan apresiasi tersebut dan bayangkan rasa terima kasih yang datang dari rekan kerja dan klien.

Mungkin ketika sudah melakukannya, mulai mendapati apakah orang yang mempekerjakan sudah cukup mengapresiasi? Atau mungkin malah tidak digaji dengan nilai yang semestinya. Dengan memiliki kesadaran penuh terhadap penghasilan, kita akan mulai berpikir bahwa, “apakah aku semestinya dibayar lebih? Apakah ini pekerjaan yang tepat untukku? Apakah aku akan merasa lebih baik jika memiliki penghasilan yang lebih banyak daripada sekarang?”

Dengan demikian, kita akan dapat menentukan keputusan yang paling baik berkaitan dengan pekerjaan dan penghasilan.

  • Mengetahui pengeluaran

Ketika berbelanja sesuatu perasaan apa yang hadir saat itu? Apakah merasa puas? Atau mungkin malah menyesal telah berbelanja? Penting untuk menyadari tujuan menghabiskan uang. Apakah karena kebutuhan sehari-hari, atau mungkin karena selalu menginginkan suatu barang yang dapat membuat seolah bahagia?

  • Memeriksa kebiasaan berinvestasi

Menginvestasikan uang tentu saja tidak salah, tapi harus memahami resiko yang ada. Pertimbangkan juga perihal “investasi leher ke atas.” Hal ini menunjukkan bahwa, menginvestasikan uang memang benar tapi itu bukanlah jawaban akhir. Mengasah berbagai kemampuan baru agar membuka peluang berbagai pekerjaan sehingga mendapatkan penghasilan tambahan.

  • Hubungan

Tidak jarang ketika teman sedang berulang tahun atau menikah, kita diajak oleh teman-teman yang lainnya untuk patungan membeli kado. Hanya saja mungkin dalam keadaan tertentu ketika sedang tidak memiliki uang yang cukup muncul perasaan takut dan malu tidak dapat ikut patungan, tapi tidak ingin teman mengetahuinya.

Uang secara garis besar dapat memberikan hal-hal yang kita butuhkan dalam hidup, seperti makan dan tempat tinggal. Bahkan uang juga mampu membuat hidup lebih berwarna dengan kemudahan dan kenyamanan. Tak hanya itu, uang juga dapat menjadi alat untuk berlatih mindfulness. Pasalnya, meskipun uang adalah pedang dengan dua mata pisau. Uang dapat memberikan kesenangan sekaligus faktor pemicu stres.

“Money, like emotions, is something you must control to keep your life on the right track.” – Natasha Munson

Referensi: A 10-Minute Practice for Engaging Money Issues (https://www.mindful.org/a-10-minute-practice-for-engaging-money-issues/)