Terdapat banyak influencer dan poster yang mengingatkan kita tentang self-love, termasuk bagaimana memahami diri sendiri. Sebuah pengingat yang bagus banget dan memang dibutuhkan untuk mental yang lebih sehat dan bahagia. Di sisi lain, kamu juga pasti sudah tahu kalau manusia adalah makhluk sosial. Kita hidup dengan orang lain dan sudah sepantasnya memiliki relasi dan empati pada sesama. Sudahkah melakukannya?

Sudah dong!

Pertanyaan selanjutnya, sudah benarkah perasaan dan sikap terhadap orang lain? Sudahkah memandang orang lain sebagaimana mereka ada, bebas dari stereotype dan penilaian subyektif? Atau bahkan dalam perbuatan baik sekalipun, misalnya dalam mengungkapkan rasa sayang pada pasangan. Apakah perlakuan yang diberikan lebih condong pada bagaimana maunya kita dibandingkan dengan bagaimana maunya mereka?

Duh, jangan – jangan aku masih salah memperlakukan orang ya!

Mungkin, tapi kamu jangan berkecil hati. Setiap hari kita selalu belajar hal baru agar menjadi lebih baik. Kita bisa mulai menerima dan memperlakukan orang lain dengan tepat ketika pikiran juga tepat. Caranya dengan menerapkan mindfulness. Mau sedikit berlatih?

Go ahead, tell me!

Pertama, pilihlah seseorang yang tidak punya ikatan emosional denganmu, yang netral saja. Misalnya, pengantar paket di sekitar kompleks, kasir minimarket dekat kantor, atau mungkin driver ojol. Saat bertemu dengan mereka, kamu bisa memulai latihan. Awal – awal kamu mungkin cuma menyadari kehadiran mereka. Selanjutnya, kamu bisa mulai menyapa atau sedikit lebih ramah padanya. Kemudian bisa menjadi orang yang memperhatikan mereka.

Latihan kecil ini bertujuan untuk membiasakan kita melihat seseorang apa adanya. Kita tidak mengetahui kisah pilu atau cerita bahagia yang mereka alami. Jadi, sikap kita hanya berpusat pada kehadiran dan keadaannya di sini, pada saat ini. Ketika kamu ingin menawarkan segelas air, tapi pengantar paket tadi buru – buru balik badan dan pergi, kamu tidak akan sakit hati. Nothing to lose. 

Mungkin ada perasaan aneh, tapi tidak akan lama. Dan jangan terlalu dipikirkan. Teruslah berlatih. Pisahkan kenyataan akan eksistensi seseorang dengan bayangan dan penilaianmu sendiri. Perhatikan dan terimalah mereka dulu. Ketika kamu sudah terbiasa, lanjutkan praktek ini pada orang – orang di sekitarmu yang memiliki ikatan emosional denganmu.

Ini nih tantangannya..

Hehe, betul sekali. Kadang menerima sikap, tindakan, dan kehadiran orang lain yang asing lebih mudah dibandingkan dengan mereka yang jadi inner circle. Tapi, coba saja ya dan jangan cepat menyerah. Sadari emosimu, perlambat responmu dan pertajam rasamu. Sekalipun emosimu sudah naik sampai ke ubun – ubun, saat sikap mereka tidak terasa tepat dan benar, tetaplah berharap yang terbaik buat mereka. Tidak ada orang yang hidupnya terbebas dari masalah.

What?!

Ini bukan berarti mengajakmu menjadi orang yang selalu menerima semua perlakuan orang lain, atau menjadi orang yang abai terhadap kata hati sendiri. Tidak sama sekali. Latihan ini bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa sebagai manusia, kadang kita masih melihat orang seperti maunya kita bukan seapaadanya mereka.

Ketika kita bisa memahami dan menerima orang sebagaimana adanya mereka, kita bisa menemukan makna dibalik sikap dan tindakannya. Bukan untuk dibenarkan, namun untuk dipahami. Jadi, ketika teguran dan keluhan itu diperlukan, kamu bisa menyampaikannya dengan tetap adem dan valid. Bukan karena emosi atas ekspektasi dan asumsi terhadap orang lain.

Menerima dan mencintai orang sebagaimana adanya mereka, juga berarti memberikan teguran yang obyektif dan perlu. Sama sekali tidak apatis dan mengabaikan dirimu sendiri kan?

“We all need to treat each other with human dignity and respect.” – Madonna Ciccone

Referensi: www.mindful.org/dont-i-know-you/