Masa pandemi belum berakhir. Belum bisa dipastikan kapan akan selesai. Malahan beberapa waktu terakhir, rasanya virus ini mendekat ke inner circle kita dan bisa jadi ke diri sendiri. Mendengar kabar teman dan saudara yang sakit dan berpulang selalu menggoreskan duka di hati. Mungkin belum sempat pulih, tapi sudah ada kabar lain yang menghampiri.

Semua akan baik – baik saja, masak sih?

Aku masih percaya kekuatan akan pesan ini, walaupun sekarang terdengar seperti basa basi. Kita sadar kalau kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Tapi enggak bisa dipungkiri juga kalau kita tidak menginginkannya dan mau menyiapkan diri seperti apapun, kenyataannya enggak pernah siap juga. Menghadapi dan melaluinya bukan hal mudah. Jadi yang akan kita bahas di sini bukan tentang bagaimana menjadi tidak sedih. Bukan juga tentang bagaimana bisa cepat move on atau kembali kuat. Not today. Kini kita hanya mau menggeser sedikit arah pandang.

Ini tentang bagaimana kita belajar mencintai dan menghargai segala sesuatu yang pernah dan masih dimiliki, serta yang sudah pergi. Tentang teman, keluarga, pekerjaan, kehidupan, kesempatan, masa muda, dan semuanya. Setiap perpisahan sejatinya adalah momen akan suatu koneksi. Kehilangan dan duka mengajarkan kita untuk perlu sungguh – sungguh menghayati setiap hal dan momen yang ada, sungguh menghargainya, sebelum kita bisa melepaskannya dengan atau tidak sengaja.

Kemampuan untuk merelakan dan melepaskan bukan hal yang bisa dipelajari dalam satu malam. Kita perlu berlatih dan terus berlatih, salah satunya dengan meditasi.

  1. Duduklah dengan nyaman dan rileks

Tenangkan diri dan pikiranmu dengan beberapa kali mengambil napas secara perlahan dan dalam. Seperti yang sudah sering kamu dengar, pusatkan perhatianmu pada napas. Hadirlah utuh dan sadar penuh di sini kini.

  1. Coba ingat kembali salah satu momen duka

Memang menyakitkan, namun cobalah untuk mengingat salah satu perisitiwa kehilangan yang kamu alami. Mungkin ada duka yang belum lama hadir, atau kejadian lampau yang masih terus terasa lukanya.

  1. Raga dan jiwamu akan merasakannya

Ada rasa sedih yang bangkit kembali. Mungkin detak jantungmu menjadi lebih cepat dan napasmu lebih pendek. Ada rasa yang menggetarkan batin. Kita tidak perlu menginterpretasikannya, cukup dirasakan saja.

  1. Bawa pikiranmu ke dalam jantungmu, pas di tengah dadamu.

Rasakan bagaimana dirimu selama ini membawa duka tersebut. Jantung yang berdetak dengan lebih berat karena mengangkut kenangan duka itu. Kini cobalah untuk menenangkan jantungmu.

  1. Rasakan dan tenangkan juga ulu hatimu

Tenggorokan dan ulu hati kita juga sering terhubung dengan duka. Saat kita menangis atau terkejut, sering kan seperti ada yang mencekat di ujung tenggorokan.

Cobalah untuk rileks dan tenang. Sekalipun tidak diperintah, tapi tubuh kita terus mengingat dan membawa kenangan itu.

  1. Pusatkan perhatianmu pada emosi yang muncul

Apapun emosi yang muncul, dirasakan saja dan tidak perlu diredam atau ditahan. Mungkin ada rasa marah, sedih, cinta, kekecewaan, macam – macam. Tidak masalah juga jika emosi itu berubah dari waktu ke waktu. Emosi adalah energi dari kedukaan kita dan memang selalu berubah, dinamis. Rasakan saja tanpa memberikan judgement apapun. Jika kamu merasa mulai berat dan penuh, cobalah untuk beristirahat sebentar dan ambil napas beberapa kali.

  1. Just rest, just feel, just be.

Biarkan duka ini bekerja dengan caranya sendiri dan memulihkanmu pada waktunya. Kita tidak bisa memaksa duka ini cepat sirna. Biarkan dirimu bersedih dan berduka. Hancur dan sedih bukan hal yang salah atau memalukan kok. Ini manusiawi.

  1. Duka ini mengajarkan kita sesuatu

Ketika momen itu belum lama berlalu, bisa saja kita masih belum bisa mencerna sepenuhnya. Enggak masalah. Atau ketika kita merasa ada suatu arti yang ingin disampaikan oleh semesta, buka diri dan telinga kita ya. Perpisahan bukanlah hal yang kita sukai dan rasanya berat untuk menerima kenyataan.

Saat kita bisa menerima tentang kehilangan dan perubahan yang besar ini, akan hadir dan menetap pula cinta dan penghargaan akan hal baru dan yang masih dimiliki.

Kita masih bisa membebaskan perasaan ini untuk mencintai dan melanjutkan keseharian. Pengalaman pahit dan sulit ini memang membuat hati menjadi rapuh, namun lebih lembut dan peka.

“Grief is in two parts. The first is loss. The second is the remaking of life.” – Anne Roiphe

Referensi: https://www.mindful.org/a-10-minute-guided-meditation-for-working-with-grief/