Ada orang – orang yang tidak sabaran dan selalu tidak puas. Semakin banyak harta dan kekayaan yang dimiliki, rasanya menjadi ingin lebih dan semakin kaya lagi. Apakah kamu juga merasakannya, atau ini hanya pikiranku saja? Bahkan, untuk setiap hasil dan sesuatu yang kita dapatkan dengan mudah menjadi kurang bersyukur dan tidak merasa cukup.

Seolah hidup ini adalah perlombaan yang tidak ada akhirnya. Semua mengejar status menjadi yang paling hebat, paling kaya, paling sukses, paling cepat, dan paling apapun di semua aspek kehidupan. Kita hidup saat ini untuk mengejar kehidupan esok hari. Kita malah lupa untuk hadir utuh dan sadar penuh pada saat ini.

Sebuah quote dari Benjamin Hoff menjadi sebuah renungan singkat yang layak dipikirkan. Lihatlah awan yang ada di atas sana, bergerombol seperti kapas raksasa lalu terpisah begitu saja. Sama seperti angin di padang, berhembus dari belakangmu dan bergulung ke depan. Nantinya angin itu juga kembali menerpa wajahmu dan berlalu melewati punggung. Tidak ada bedanya dengan hidup ini, jadi kenapa kita tidak bisa merasa rileks? Siapa yang sebenarnya menghalangi untuk merayakan kehidupan ini?

Percayakah kamu ketika tingkat kekayaan dan status sosial kelas atas menjadi jawaban atas perlombaan yang kita kejar ini? Seorang financial advisor yang menangani banyak miliarder papan atas memiliki pandangan yang bertolak belakang. Pengalamannya menunjukkan bahwa menghasilkan lebih banyak uang menjadi lebih kaya tidak memiliki garis akhir. Termasuk bagi mereka yang sudah kaya raya dan tidak akan miskin tujuh turunan. Rasa cukup tidak ada dalam hidup mereka. Ini bukan tentang menentang semangat bekerja keras dan pantang menyerah. Ini tentang ironi melewatkan kehidupan untuk sesuatu yang disebut kehidupan itu sendiri. 

Mungkin ada miliarder yang sepertinya tidak tahu atau tidak mau untuk rileks dan menikmati waktu yang ada di masa sekarang. Tidak sempat, begitu alasannya. Tentu saja, bagaimana kita bisa hadir utuh dan penuh ketika sedang tergesa – gesa untuk mengejar dan meraih sesuatu di depan sana? Hidup yang demikian seperti mendaki gunung Everest. Ketika sudah sampai di puncak, kita segera turun untuk bisa secepat mungkin kembali mendaki, dan lagi, lagi, dan terus seperti itu. Kita tidak menikmati pemandangan ketika sedang mendaki. Juga tidak menikmati pemandangan dari puncak sana. Membayangkannya saja sudah membuat lelah pikiran dan perasaan.

Ucapan klasik antar teman, “see you on top!” menjadi sesuatu yang menggelitik. Di puncak yang mana? Sejatinya puncak alias top itu ada dalam mindset. Puncak menjadi sesuatu yang abstrak dan tak berujung karena kita sendiri yang mendefinisikannya. Lebih celaka lagi jika ingin diraih dengan super instan. Semua orang ingin cepat sampai puncak, sesingkat mungkin pokoknya. Tapi nyatanya, tidak ada hasil gemilang dalam waktu sekejap. Menempuh jalan belakang yang tidak jelas dan ilegal akan membelokkanmu dari tujuan. Alih – alih ingin cepat sampai puncak, cara demikian hanya membuang waktu.

Suatu pencapaian terasa indah dan mampu membayar semua jerih payah hanya jika sungguh mengusahakannya dengan jujur, tekun, dan sepenuh hati. Proses menuju ke pencapaian itu yang memberikan kesan berharga, bukan semata – mata hasilnya.

“Setelah dimakan, madu ternyata tidak senikmat ketika dibayangkan. Suatu target juga tidak terlalu berarti lagi setelah berhasil dicapai. Penghargaan juga tidak nampak terlalu berharga lagi setelah dimiliki”- Pooh dalam The Tao of Pooh

Winnie the Pooh yang jenaka juga memiliki sisi bijak dalam berbagai ucapannya. Buku karangan Benjamin Hoff ini menyadarkan kita bahwa usaha mencapai tujuan dan waktu yang bergulir inilah yang membuat pencapaian kita memiliki arti yang besar. Proses yang membuat semua usahamu terasa layak dibayar dengan hasil yang maksimal. Pusatnya ada di proses, bukan di titik akhir ketika ketenaran, kekayaan, atau status sosial itu menjadi milikmu.

Oleh sebab itu, sekalipun terdengar klise, namun ketika kita diminta untuk menikmati prosesnya maka lakukanlah. Sekalipun membutuhkan waktu lama dan tak jarang perih, tetaplah nikmati prosesnya. Semua jatuh bangun dan lika-liku keadaan yang membuat kita menjadi lebih bijaksana dan lebih bisa menghayati kebahagiaan. Setiap jalan pintas dan elakan yang ditempuh hanya akan membuat seseorang menjauh dari kebahagiaan yang sejati dan menghadirkan kebingungan, kekecewaan juga masalah.

Ingatlah, ketika kita sudah mencapai tujuan sempatkan untuk menghirup udara segar. Nikmatilah momen yang ada, rayakan dan apresiasi dirimu sendiri, pijatan nyaman di salon langganan atau makan malam menu favorit silakan pilih sendiri. Hargai dan rayakan setiap momen yang ada, nikmati prosesnya dan nikmati pula hasilnya. Jangan mudah terbawa ego untuk langsung bangkit berlari mengejar target baru, yang lebih tinggi, lebih jauh, lebih sukses, lebih tenar dan semua yang tidak berujung itu.

Santai saja. Jangan takut kehilangan kesempatan karena ada orang lain yang meraihnya ketika kamu beristirahat. Orang yang percaya pada dirinya sendiri akan berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita tidak sedang berkompetisi dengan siapapun. Setiap orang punya perlombaannya sendiri, melawan ego dalam batin masing – masing, bukan melawan orang lain. Bahkan jika kamu tidak meraih target dan cita-citamu, kamu tetap bernilai dan berarti.

Ya, terkadang kita sudah memiliki segala hal yang dibutuhkan namun tidak nampak dan terasa kurang bernilai. Tanpa menjadi lebih kaya, lebih sukses, lebih terkenal, dan lebih berkuasa, hidup sebenarnya sudah cukup. Mungkinkah selama ini mata kita tertutup stigma yang dibuat oleh diri sendiri? Pikiran tentang hidup yang seharusnya lebih baik, pekerjaan yang lebih menjanjikan dan semua keluhan membuat seseorang merasa bahwa hidup hari ini belum menjadi hidup yang layak disyukuri.

Kita masih hidup dengan jantung yang berdetak konstan, udara yang bisa dihirup secara gratis dan hati yang masih bisa merasa dan mencinta. Apakah kurang? Sederhana memang, tapi itu kekayaan tak tergantikan dalam hidup ini, sekaligus modal awal. Hulu dari semua rencana hidupmu, sekaligus hilir dari semua yang kamu kejar. Ketika kita mengejar segala sesuatu di dunia ini untuk hidup yang baik, bukankah dari awal hidup memang sudah baik?

“Happiness is a journey,

Not a destination”- Buddha

Referensi: Trusting the process – Ilene S. Cohen, Ph.D (www.psychologytoday.com/us/blog/your-emotional-meter/201809/trusting-the-process)