Sudah belasan dan bahkan puluhan tahun, kita hidup dan berbaur di komunitas. Sudah ada banyak relasi yang kita bangun, kelola, dan pernah miliki mulai dari hubungan keluarga, pertemanan, asmara, dan profesional. Itu artinya kita juga sudah bertemu dengan banyak karakter orang, mulai dari yang bikin manggut – manggut, sampai yang bikin ngebatin “bisa gitu ya?”.

Salah satunya adalah orang defensif. Mungkin selama ini kamu bertanya – tanya, kenapa ada orang yang sangat tidak nyantai, enggan mengaku salah, dan curigaan. Semoga artikel ini bisa membantu menjelaskan hal yang satu ini ya.

Sikap defensif tidak hanya merujuk pada kondisi kita terang – terangan meninggikan nada suara. Dengan intonasi rendah atau nada yang kalem, seseorang masih bisa bersikap defensif. Contohnya ketika mengelak dari hal yang sudah dikatakan alias denial. Ada juga yang bersikap palsu, dibuat – buat, bahkan sampai berbohong. Tujuannya ya mengelak dari diskusi dan upaya untuk menjelaskan keadaan seapa adanya. Bahkan ada juga yang menjadi defensif tanpa suara.

Iya, diam saja dan menghindar. Pokoknya kalau sudah tau arah pembicaraannya akan menyulitkan dirinya, maka dia akan menghilang begitu saja, diam seribu bahasa.

Motif dari berbagai sikap defensif ini adalah ingin mengatakan pada lawan bicaranya bahwa mereka salah atau mereka yang bermasalah. Selain itu, dia yang defensif merasa bahwa ketika mereka tidak bisa mengontrol situasi seperti yang diharapkan, itu artinya mereka kalah. Sehingga kehadiran orang di sekitarnya menjadi ancaman dan muncul konfrontasi tadi.

Orang yang defensif cenderung memiliki kesulitan untuk mengelola perasaannya sendiri. Sebetulnya bukan karena tidak tahu caranya, namun mereka enggan berusaha untuk mengenali, menggali, dan mengelola emosi sebagaimana semestinya orang dewasa bersikap. Mereka bisa saja sangat impulsif dan reaktif terhadap emosi yang muncul. Tidak selalu meledak – ledak ya, bersikap diam dan menarik diri dari orang di sekitarnya juga termasuk gestur reaktif. Mereka cenderung tidak memberikan cukup waktu untuk jeda sejenak dan berpikir secara seimbang.

Apa yang terjadi dalam otak ketika seseorang bersikap defensif dan reaktif?
Menurut praktisi kesehatan mental, reaksi defensif merupakan salah satu respon primitif manusia. Kita memiliki otak dan area cerebral korteks. Ketika seseorang sedang defensif, sistem limbik di otak yang memproses emosi sedang bekerja keras. Tidak ada yang salah, selama tidak berlebihan. Ketika sistem limbik ini terlalu diforsir, sejatinya kita sedang berada dalam fase pertahanan. Sebuah sistem yang refleks terbentuk untuk proteksi diri, seperti mamalia atau hewan lainnya.

Kata kuncinya ada di bagian “selama tidak berlebihan”. Iya, sebab yang membedakan manusia dengan mamalia lainnya adalah kemampuan kita untuk memahami apa yang terjadi di dalam diri ketika saat sedang berada dalam suatu argumen ataupun pertentangan. Sebagai manusia, kita dituntut untuk bisa mengontrol apa yang akan dikatakan dan dilakukan.

Bagaimana caranya menghadapi orang yang defensif?
Sebelum kita membahas tentang caranya, sempatkan untuk melihat ke dalam diri masing – masing. Apakah kamu merasa kebingungan dan frustasi dengan dia yang defensif? Mungkin ada cukup banyak pertanyaan yang berputar di kepalamu.

Kenapa sih kok enggak mau bicara baik – baik?
Apa sulitnya mengatakan yang sesungguhnya, tanpa selalu mengelak begitu?
Kok rasanya seperti sama orang yang enggak dikenal ya, atau malah seperti sama orang yang dibenci?
Kalau kamu merasa sakit hati atau kecewa, sadari saja ya. Perasaanmu valid dan tenangkan dirimu sebelum kamu menghadapi mereka.

Sudah siap?
Pertama, jangan mengatakan “kok kamu defensif” kepada dia. Kalimat semacam ini hanya akan membuat suasana semakin tidak menyenangkan. Dia tahu kok kalau sikapnya itu defensif, enggak perlu disebutkan lebih gamblang lagi. Sudah ada orang lain yang mengeluhkan hal itu padanya sebelum ini, jadi kamu tidak perlu mengulanginya.

Kedua, saat kamu menyadari sikapnya mulai berubah, maka ambilah waktu jeda sejenak. Alihkan pandangan, pendengaran, pikiran, dan perasaanmu dari dia. Hal ini bertujuan untuk membuatmu lebih tenang dan mencegah sistem limbikmu ke-trigger berlebihan. Kamu bisa mundur sejenak dari pembicaraan atau dari ruangan tersebut. Tenangkan dirimu. Tapi ingat untuk kembali ya. Masalah yang ada perlu untuk diselesaikan.

Kamu bisa sharing dengan orang yang kamu percayai. Entah itu sekadar mengeluarkan ganjalan pikiran dan perasaanmu atau untuk mengkonfirmasi sikap si dia. Bukan enggak mungkin juga kan kalau ternyata kita yang baper?

Terakhir, coba tanyakan pada dirimu yang sudah lama mengenalnya, apakah sikapnya ini merupakan suatu kebiasaan atau hanya terjadi satu dua kali saja?
Jika hal ini dirasa menjadi suatu pola atau kebiasaan, maka apa yang akan kamu lakukan terhadap dia dan hubungan yang ada?

“Getting defensive doesn’t hide the fact that you know you could have done better.
Stop putting your energy into your excuses.” ― Tony Curl

Referensi: www.psychologytoday.com/us/blog/insight-is-2020/202109/why-some-people-get-so-defensive-and-how-manage-them