Ketika mendengar kata “selingkuh” kadang pikiran seseorang langsung mengartikannya sebagai suatu hubungan fisik dan asmara yang terlarang. Nyatanya, aspek seksual cuma salah satu dari sekian banyak alasan perselingkuhan terjadi. Kita tidak sedang dalam ranah nge-judge benar salahnya.

Kalau enggak flirting dan soal fisik, apalagi coba?

Pertama, balas dendam. Ketika salah seorang ingin menunjukkan kekuatan apalagi pas menemukan kesempatan untuk menghukum pasangannya. Tindakan yang disengaja ini bisa saja tidak melibatkan hubungan seksual. Misalnya, sengaja pergi makan bareng mantan ketika sedang berantem dengan pasanganmu.

Kedua, soal ego pribadi. Ada orang yang merasa memiliki daya tarik besar, sehingga merasa wajar jika flirting ke sana kemari. Di sisi lain ada juga yang merasa kurang dicintai dan tidak berani menyandang status single. Akibatnya, dia mencari pembuktian bahwa dirinya cukup menarik dengan flirting ke orang lain. Untuk memastikan bahwa ada orang yang selalu tertarik dengannya, maka orang dengan pemikiran seperti itu dapat memulai hubungan baru sebelum menyelesaikan hubungan yang ada sekarang.

Hmm..rumit juga, ada lagi yang lain?

Begitulah. Masih ada banyak alasan non-seksual tentang perselingkuhan. Sebagian besar di antaranya bersinggungan sekali dengan kondisi psikis dan mental. Sebagian lalu merembet ke hal lain, termasuk soal jarak alias LDR dan ketidakmampuan untuk berkomitmen. Mungkin bagi sebagian orang, komitmen adalah sesuatu yang sangat menekan dan ingin dihindari dalam hubungan monogami. Selain itu, keinginan untuk memiliki hubungan yang bervariasi dan penuh adrenalin, sekalipun tidak melibatkan hubungan fisik juga kerap menjadi alasan orang selingkuh.

Sinetron banget..

Terdengar cheesy dan nyebelin ya, tapi kondisi tersebut benar adanya. Keadaan sosial di sekitar kita juga memiliki peranan sangat penting dalam membentuk kepribadian dan persepsi akan komitmen dan hubungan monogami. Dalam hal ini, peran orang tua dalam memberikan pemahaman sekaligus contoh nyata sangat dibutuhkan.

Berbagai penyebab perselingkuhan tadi sama sekali bukan untuk pembenaran apalagi alibi. Tapi sebagai reminder untuk sekali lagi memeriksa pikiran dan perasaan masing – masing. Sudahkah kita bersikap mindful? Bagaimana kamu menyelesaikan luka batin atau isu kepercayaan diri?

Sudahkah kamu selalu bersikap jujur pada pasanganmu?

Bukan hanya sebatas tidak berbohong saat ditanya, namun juga kesediaan dan komitmen untuk selalu berterus terang. Landasan dari sebuah hubungan adalah kejujuran, ketulusan, dan kasih sayang.

Referensi: www.psychologytoday.com/intl/blog/sexual-self/202105/when-cheating-is-not-about-sex