Ini adalah kedua kondisi yang sedang ramai dibicarakan dan mungkin sedang dialami. Keduanya memiliki sebuah persamaan, yaitu sama – sama merupakan respon emosional yang muncul begitu saja. Pemicunya bisa dari diri sendiri dan bisa juga dari keadaan eksternal. Umumnya, stress disebabkan oleh kondisi eksternal. Nah di sini mulai nampak perbedaannya, kalau anxiety umumnya disebabkan karena adanya tekanan dari diri sendiri atau bahkan tanpa tekanan.

Kok bisa? Kita bahas satu persatu ya.

Stress.

Bisa terjadi karena trigger yang relatif cepat dan spontan, seperti deadline kerjaan atau perselisihan dengan pacar yang langsung bikin boom! Kita jadi enggak mood, enggak fokus, dan merasa tidak tenang. Stress juga bisa terjadi karena tekanan yang terjadi untuk jangka waktu yang cukup lama, seperti diskriminasi, bullying, termasuk penyakit kronis yang sering menjadi beban pikiran banyak orang. Ketika tekanan ini menghimpit, timbul gejala fisik dan psikis, seperti perasaan terluka, marah, lelah, badan pegal, gangguan pencernaan, dan sulit tidur.

Anxiety.

Alias kecemasan. Kondisi yang terkadang muncul karena pergulatan batin dengan diri sendiri, atau seperti tadi disebutkan di awal bahkan ketika tidak ada triggernya. Ada suatu kenangan atau keadaan yang membekas di ingatan dengan sangat kuat. Momen tersebut sudah berlalu tapi bayangannya masih ada. Akibatnya kita merasa tidak tenang, bingung, gelisah, dan ya..gejalanya mirip stress. Sulit tidur, sulit fokus, lelah, badan juga pegal, dan perasaannya terluka.

Contohnya anxiety disorder kayak apa sih?

Ada beberapa jenis, yang paling umum adalah ketika kita sulit mengontrol rasa cemas, terutama dalam 6 bulan terakhir. Ketika ditanya apa yang dikhawatirkan pun jawabannya bisa berubah – ubah dan random. Ini yang biasanya disebut generalized anxiety disorder.

Ada juga yang disebut panic disorder. Ketika kamu merasa tidak nyaman akan suatu hal atau tempat, tiba – tiba tubuh jadi berkeringat, merasa pusing, linglung, dan sesak napas. Umumnya panic disorder berkaitan dengan suatu phobia, misalnya ketinggian atau tempat ramai.

Terus gimana dong?

Ketika kondisi ini masih dalam tahap ringan, kita bisa menyelesaikannya sendiri, baik itu stress ataupun anxiety. Tubuh dan jiwa memiliki kemampuan untuk bertahan dan menghadapi keadaan ini, lalu membaik dengan sendirinya. Yang kita butuhkan adalah makanan yang bergizi dan bervariasi, agar kesehatan dan mood terjaga. Selain itu kita juga butuh tidur yang cukup dan berkualitas, serta aktivitas fisik yang sesuai. Hal ini bertujuan untuk meregenerasi sel yang rusak dan memproduksi hormon untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Kalau masih enggak baik – baik saja?

Well, kalau dalam beberapa hari tidak terjadi perubahan atau malah justru tekanan ini mengganggu aktivitas harianmu, cobalah untuk menemui tenaga profesional. Kamu bisa berkonsultasi dengan psikolog yang akan membantumu memahami keadaan dengan lebih baik. Kamu juga bisa berkonsultasi ke psikiater jika membutuhkan penanganan medis lanjut seperti terapi atau pengobatan. Jangan merasa takut untuk membicarakan keadaan emosi dan mentalmu. Semakin cepat ditangani justru akan semakin baik, dan kamu juga lebih cepat merasa baikan.

Stress dan anxiety sama sekali bukan aib ataupun penyakit yang memalukan. Data dari National Institute of Mental Health di Amerika Serikat mencatat bahwa hampir 1 dari 5 orang di atas usia 18 tahun memiliki anxiety disorder pada tahun 2019. Selain itu, 1 dari 3 orang Amerika pernah mengalami anxiety disorder selama hidupnya. Tanpa bermaksud mengglorifikasi anxiety atau stress, tapi lihatlah kamu tidak sendirian. Banyak dari kita yang pernah mengalami dan bisa melewatinya. Kamu juga pasti bisa.

Spoiler dong tentang terapi penanganannya..

Namanya psikoterapi, bisa dijalankan sendiri atau digabung dengan pengobatan. Pada beberapa kondisi juga bisa hanya dilakukan pengobatan. Psikoterapi menggunakan pendekatan terapi perilaku kognitif, di mana kita berpusat pada upaya untuk mengubah pikiran dan tindakan yang tidak diinginkan. Sehingga ketika ada tekanan, kita lebih bisa menyadari reaksi diri masing – masing. Selain itu, ada juga terapi yang menghadirkan trigger atau stressor dalam porsi yang terukur dan aman. Hal ini bertujuan untuk membuat kita terbiasa menghadapi trigger tersebut dan membangkitkan keyakinan serta kemampuan untuk menghadapinya.

“You don’t have to see the whole staircase,

Just take the first step” – Martin Luther King

Referensi: www.apa.org/topics/stress/anxiety-difference