Wellbeing dapat dipahami secara luas. Sebagian orang menerjemahkannya sebagai kesehatan. Bisa juga, enggak salah kok. Sebab hal yang berkaitan dengan tubuh; yaitu jiwa dan raga, dapat dengan mudah diberi label sehat ataupun sakit. Tapi ijinkan aku mengajak kita menerjemahkan wellbeing sebagai keafiatan.

Betul, afiat. Seperti dalam kata sehat walafiat. Jadi tidak hanya sekadar sehat dalam artian tidak sakit, namun lebih dari itu. Ada makna tentang kuat, bugar, baik, dan menyeluruh. Boleh ya kita terjemahkan secara bebas kata wellbeing ini menjadi keafiatan?

Sebelum membahas lebih jauh, ada satu hal yang perlu kamu ketahui. Kita tidak bisa meningkatkan keafiatan emosional dengan menghindari pergolakan emosi itu sendiri. Yang kita butuhkan justru adalah menghadapi gelombang emosi yang ada dengan kesadaran utuh. Sehingga kita bisa mengatur keseimbangan diri dan jika terjatuh, maka kita juga mampu pulih.

  1. Berlatihlah untuk menyadari emosi

Kita bisa berlatih dengan cara melakukan refleksi diri secara berkala. Sempatkan untuk berbicara dan mendengarkan tubuhmu. Apa yang sedang dirasakan? Kenapa perasaan tersebut bisa muncul? Untuk setiap perasaan yang berlebih, baik itu suka maupun duka, renungkan juga, apa yang sekiranya bisa menetralkan perasaan kita?

Saat seseorang kurang ngeh dengan emosi yang muncul, maka tindak dan laku bisa kurang selaras. Akibatnya dapat melukai keafiatan emosi diri sendiri. Tapi, ketika mau berlatih dan sedikit lagi lebih peka pada emosi masing – masing, kita bisa menjadi orang yang lebih utuh dan penuh. Selain mampu menikmati momen dengan lebih baik, kita juga bisa memberikan dampak positif bagi pikiran, orang, dan situasi di sekitar.

  1. Berlatihlah untuk menerima keadaan dengan mindful

Mindfulness tidak hanya tentang menyadari sesuatu, dalam hal ini emosi. Mindfulness juga termasuk seni penerimaan. Sudahkah kita menerima emosi yang hadir dengan netral tanpa judging? Coba diingat – ingat lagi ya. 

Saat kita bisa menerima emosi dengan seapa adanya, maka kita sedang mencegah timbulnya emosi negatif sekunder.

Apakah itu?

Misalnya begini, kamu marah lalu merasa bersalah atas kemarahan yang muncul. Nah, rasa bersalah adalah emosi sekunder itu.

Jadi ketika ada emosi yang muncul, sadari dan terima saja dulu, tanpa cepat melabeli baik dan buruk. Emosi juga tidak perlu ditekan berlebihan, sekaligus tidak perlu ditanggapi berlebihan. Jika sudah ada api, maka kita tidak perlu menyiram minyak lagi kan?

  1. Atur ulang fokus atensi

Momen mengejutkan apapun pasti membuat kita terpana dan terpaku. Secara tidak sadar, atensi kita tertumpu pada kejadian menyedihkan atau euforia yang ada. Kita sulit melihat hal lain di sekeliling. Cobalah untuk sedikit bergeser dan melihat pada area netral.

Ini tidak mudah, bener banget. Jauh lebih mudah mengucapkan dibanding melakukan. Tapi aku mengajakmu untuk mau mencoba. Sebab ketika kita mampu mengatur ulang fokus atensi, kita sedang menggeser diri dari risiko anxiety juga.

  1. Berlatih menilai kembali alias reappraisal

Reappraisal adalah cara untuk kita menjaga kestabilan emosi terutama saat stress. Kita diajak untuk menafsirkan ulang situasi yang muncul dalam mood yang lebih enteng. Reappraisal adalah sebuah skill, jadi semakin sering berlatih tentu akan semakin mudah kita terbiasa.

Kita bisa mulai dengan membuat daftar hal – hal positif dari berbagai situasi. Waktu itu ada kesempatan apa ya sehingga aku bisa berkembang? Aku sudah belajar apa saja dari pengalaman yang lalu?

  1. Emotional distancing

Physical distancing untuk pandemi, emotional distancing untuk keselamatan hati.

Saat kita menghadapi konflik, sempatkan untuk berpikir, bagaimana dampak atau artinya hal ini dalam kurun waktu minggu depan, bulan depan, atau tahun yang akan datang?

Hal ini membantu kita untuk bisa melihat masalah dengan lebih baik dan pulih dari mood negatif dengan lebih cepat. Kamu juga bisa mencobanya dalam konflik yang sudah lewat namun masih membekas dan tergenggam. Kejadian lampau tersebut kira – kira akan menyebabkan apa ya di masa depan?

  1. Berimajinasi

Saat kita membayangkan hal positif, otak kita memproduksi sinyal sehingga kita bisa merasakannya dengan cukup nyata, seolah hal itu ada di depan sini. Tapi dalam kondisi pelik, kita sulit untuk bisa membayangkan hal positif ya. Boro – boro gitu, untuk berpikir realistis saat ini di sini kini juga sudah menjadi tantangan tersendiri ya.

Namun semua perlu dicoba dan dilatih. Tidak ada salahnya dan justru ada gunanya kok. Saat kamu sedang badmood, cobalah bayangkan dirimu ada di tempat yang baik, atau apapun. Gunakan imajinasimu seindah mungkin untuk memproduksi emosi positif ala kamu.

  1. Bagikan momen positif!

Dengan berbagi, kita sedang memupuk dan menjaga agar momen positif ini tetap tumbuh, mengakar, dan bertahan lebih lama. Jadi kamu bisa membagikannya pada inner circlemu. Pesanku cuma satu, tetap gunakan empati ya. Bercerita dan rayakanlah dengan mempertimbangkan kondisi sesamamu.

Kita juga perlu untuk bisa memisahkan antara bercerita dan menyombongkan diri. Untuk mencegah salah paham, ada satu trik yang bisa kamu coba. Fokuslah pada hal yang ingin kamu bagikan, bukan pada dirimu.

Contohnya, kamu baru saja mendapat kenaikan jabatan. Kita tidak perlu bercerita detail tentang prestasi dan kinerjamu. To the point saja. “Aku sedang merasa senang dan optimis pada karirku. Kita rayakan dengan makan bareng yuk, aku traktir.”

“Caring for the mind is as important and crucial as caring for the body. 

In fact, one cannot be healthy without the other.”

– Sid Garza-Hillman

Referensi: www.psychologytoday.com/us/blog/click-here-happiness/202107/7-ways-boost-emotional-wellbeing